Toxic People || Belajar Hidup #8

 Jadwal rutin keluargaku mengunjungi rumah kakek dari pihak Ayah dan Bunda adalah hari Sabtu tiap akhir bulan. Rumah kedua kakek-nenekku masih berada di kabupaten yang sama, Garut.

Foto oleh AL FARIZ


Sejuk dan menenangkan adalah suasana yang kudapatkan di sana. Kami selalu menyempatkan untuk menginap satu sampai dua hari. Kali ini kami berangkat pada hari Jumat sore setelah Ayah dan Bundaku selesai dengan urusan mereka masing-masing. Kemungkinan kami akan pulang pada hari Ahad sore, toh waktu tempuh tidak sampai lebih dari empat jam.

Bunda menjanjikan meskipun Two Hours kita minggu ini di Garut, kita akan menyempatkan untuk bisa berduaan saja di rumah kakek dari pihak Bunda.

Seperti biasa, Ayah selalu membawa banyak kiriman untuk keluarga di Garut. Tak peduli apakah mereka merendahkan atau menghargai Ayah dan Bunda, mereka berdua tak pernah lagi ambil pusing dengan hal seperti itu.

Akhirnya Bunda dan aku bisa menyempatkan waktu untuk sekadar berdiskusi santai. Bunda menceritakan bagaimana kondisinya dahulu saat sebelum menikah dengan Ayah dan memilih pindah ke luar kota. Banyak alasan yang dipertimbangkan mengapa akhirnya Ayah dan Bunda memilih Bandung sebagai tujuan.

Bunda selalu mengingatkanku untuk berbicara hati-hati atau lebih baik diam saja, ternyata nasihat itu bukan tanpa alasan, semenjak aku telah dapat membedakan antara baik dan buruk, serta benar dan salah. Aku menjadi paham mengapa Bunda menasihatiku seperti itu, karena Bunda termasuk salah satu orang yang tidak terlalu dekat dengan saudara-saudara kakek. Aku sering mendengar frase toxic people atau orang yang 'beracun', dan itu sesuai dengan apa yang Bunda ceritakan.

"Bunda tidak bermaksud memengaruhimu atau ghibah-in dulur-dulur Bunda, tapi kamu harus belajar dari hal ini." Bunda memulai obrolan sambil ditemani angin sepoi-sepoi di gazebo belakang rumah.

"Kenapa lagi, Bun?" Tentu aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Kamu bisa lihat 'kan bagaimana sikap tante-tante Bunda tadi?

"Kamu tahu juga 'kan Bunda ini orangnya baperan dan mudah sekali overthinking meskipun Bunda selalu berusaha mengendalikan, tapi kadang Bunda tak habis pikir tiap kali berkunjung ke sini pasti ada saja yang membuat Bunda mengelus dada."

"Memangnya tadi gimana, Bun?"

"Ya seperti biasa, Bunda di-introgasi tentang usaha Ayah di Bandung."

"Begini, Sa, jadikan pembelajaran, ya, kamu tidak boleh banyak mengurusi urusan orang lain yang bukan urusanmu. Sekaya apapun, semiskin apapun seseorang, mereka tetap memiliki hak untuk dihargai sebagaimana kamu ingin dihargai. Bunda memiliki pengalaman bagaimana dahulu keluarga Bunda direndahkan, alasannya sama saja, tentang kekayaan dan jabatan."

"Kenapa ya, Bun? Selalu saja itu yang dipermasalahkan? Seperti tak ada topik lain yang lebih penting daripada menguruskan hal begituan."

"Sa, Setiap orang memiliki pengalaman, pendidikan, prinsip, lingkungan yang berbeda. Bagaimana mereka dibesarkan, siapa yang menjadi role model mereka, itu semua berpengaruh terhadap bagaimana mereka memandang kehidupan beserta manusianya."

"Tapi, Bun, apakah tetap ada orang yang dibesarkan di lingkungan yang 'mendewakan' materi tapi ia sadar bahwa hidup tidak melulu tentang itu?"

"Tentu ada, Sayang. Hanya mungkin kecil kemungkinan. Manusia itu mudah sekali terpengaruh, Sa. Itulah mengapa pendidikan formal, informal, dan nonformal sangat penting untuk tetap bersinergis, seimbang, jangan pincang salah satunya. Tapi, penanaman nilai-nilai kehidupan dalam pendidikan keluarga itu bisa menjadi pondasi yang baik, agar si anak memiliki bekal saat terjun ke lingkungannya, dan kecil kemungkinan ia menjadi seorang yang toxic."

"Oke, Bun, aku paham. Tapi, Bun, mungkinkah juga seseorang dapat terpengaruh oleh lingkungan yang baik meskipun memiliki pendidikan dasar yang kurang dari keluarganya?"

"Tentu, Sa, bisa. Hanya saja semuanya pasti dengan proses. Lagipula manusia kan pada dasarnya adalah makhluk yang dinamis, bisa berubah kapan saja, semua itu selalu ada faktor yang melatarbelakanginya."

"Sa, Bunda nitip pesen sama kamu, jangan menjadi orang yang toxic, ya. Usahakan untuk selalu menerapkan nilai-nilai baik kehidupan yang selalu Bunda dan Ayah contohkan pada kamu. Tentu Ayah dan Bunda selalu ada kekurangan, tapi mudah-mudahan kamu bisa mem-filter mana yang harus kamu contoh dan mana yang harus kamu buang.

"Adil-lah, Sa, adil itu simple tapi berat kalau tidak terbiasa. Kamu paham kan apa arti adil?"

"Sederhananya, adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, kan, Bun?"

"Ya, betul, Sa. Sesuatu, itu maknanya luas sekali. Bisa saja barang, amanah, bahkan ucapanmu sendiri, Sa. Coba kamu jelaskan pada Bunda bagaimana berbuat adil itu?"

"Hm... Contoh kecil gapapa, kan, Bun?"

"Boleh."

"Misalnya, aku minta izin terlebih dahulu untuk menggunakan barang milik orang lain. Betul, gak, Bun?"

"Betul, Sa. Intinya sekecil apapun juga harus kamu lakukan dengan adil. Memang yang Mahaadil hanya Allah Ta'aala, tapi setidaknya kita selalu berusaha untuk berbuat adil sebaik-baiknya. Contoh lain, buang sampah pada tempatnya. Jangan dikira sembarang buang sampah meskipun sampah kecil tidak akan membawa dampak besar. Coba menurutmu mengapa hanya dari buang sampah sembarang saja bisa berdampak besar?"

"Menurutku, gimana, ya, oh begini, Bun, misal ada seseorang yang menganggap remeh sampah kecil yang dibuang sembarangan di pinggir jalan, misalnya, terus ada orang lain yang lewat, karena melihat ada sampah di tempat itu, si orang lain itu pun ikut-ikutan buang sampah di sana, dan begitu seterusnya, hingga tempat itu menjadi penuh dengan sampah yang mengganggu pejalan kaki, pencemaran udara, pencemaran pemandangan, dan sebagainya."

"Nah, cerdasnya, anak Bunda ini. Begitulah, Sa, sekecil apapun perbuatan baik kita pasti akan ada balasannya, begitu juga dengan perbuatan buruk. Menjadi toxic people itu tidak melulu karena tukang marah, atau perbuatan yang secara lahiriah terlihat, hanya dengan ucapan pun bisa menjadikan seseorang termasuk golongan itu. Menurutmu contohnya gimana?" Bunda kembali memintaku untuk memberikan contoh kasus lagi.

"Hm... Mengadu domba orang lain, Bun? Menyebarkan aib orang lain, terus juga menyombongkan diri, mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, mengagung-agungkan perbuatan baik diri sendiri, dan masih banyak lagi lainnya, Bun."

"Semuanya betul, Sa. Bunda senang kamu bisa paham topik ini, semoga kita semua tidak termasuk orang yang toxic, ya. Dan kita juga gak perlu mempermasalahkan ke-toxic-an orang lain, biarkan saja, jadikan pembelajaran, apalagi orang yang tidak memungkinkan untuk diingatkan secara langsung lebih baik doakan saja, daripada malah memperkeruh keadaan. Sekali lagi, Bunda pesen, misalnya dalam ucapan, karena kebanyakan dosa anak cucu Adam adalah karena lisannya, jadi sebisa mungkin kendalikan ucapan kita, pikir terlebih dahulu sebelum diucapkan, karena ucapan itu tidak bisa ditarik kembali kayak pesan WA." Aku dan Bunda tertawa singkat.

"Lebih baik diam daripada berucap yang menyakitkan hati orang lain, daripada berbicara kesia-siaan lebih baik diam."

"Kalau orang lain yang berbicara tidak baik pada kita, itu gimana, Bun?"

"Biarkan saja, Sa, apalagi kalau di depan orang lain, jangan berani-berani menasihati, karena sepatutnya nasihat diberikan hanya kepada orang yang dituju saja, kalau menasihati di depan orang lain apalagi tempat umum itu namanya mempermalukan. Ingat saja, Allah akan membalas perjuangan kita yang menahan nafsu untuk membalas kejahatan orang lain."

"Baik, Bun, aku akan belajar untuk tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang toxic, menjadikan mereka sebagai pembelajaran agar aku tidak berbuat hal yang sama. Jadi, sekarang saat ada orang-orang toxic di sini, aku lebih baik tersenyum saja dan diam, kalaupun harus berbuat sesuatu berbuatlah yang semestinya, seadil mungkin."

"Betul." Bunda memelukku dengan tangan kanannya.

"Bun, kenapa sih gak ajak Ayah juga untuk berdiskusi seperti ini?"

"Hmmm... Yaudah kita ajak Ayah kalau Ayah ada luang, ya, Sa."

"Oke, Bun." Aku senang mendengar rencana itu. Tapi diskusi kami harus berakhir karena Bunda harus membantu nenek menyiapkan makanan untuk kami semua. Kadang lucu, ada banyak toxic people di sekitarku, di sekitar Bunda dan Ayahku, terutama, tapi mereka bisa tetap tenang menghadapinya.

Someone who smiles too much with you can sometime frown too much with you at your back.

~Michael Bassey Johnson

4 Agustus 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Main Quora: Seru!

Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

PAD MAN: Suami yang Lebih Dari Sekadar Mencintai