Rumah Masa Kecil || Langit Tak Selalu Biru
CATATAN PENTING
Tulisan ini dibuat
dengan tujuan sebagai catatan kumpulan memori-memori, kenangan-kenangan,
peristiwa-peristiwa, bukti bahwa aku pernah ada di dunia ini. Bukti bahwa
kehidupan ini sangat berwarna, ada ups
and downs. Mengambil pembelajaran dari setiap hal yang terjadi. Sebagai
kenangan untuk keturunanku nanti, bahwa hidup itu sesuatu yang sangat unik dan
kompleks, penuh ironi dan paradoks.
Sebagai disclaimer, segala yang kutulis murni
berdasarkan sudut pandangku, tidak ada maksud menjelekkan sesuatu atau
seseorang. Apa yang kutulis saat ini adalah buah dari berbagai pengalaman dan
pemahaman saat ini, tidak menutup kemungkinan jika di masa yang akan datang,
aku bisa saja berubah pikiran dalam memandang sesuatu. Jadi, mohon bijaksana
menanggapi segala hal yang kutulis di sini.
Alasan mengapa aku
memilih judul “Langit Tak Selalu Biru”, ini menggambarkan setiap lika-liku
kehidupan. Biru itu indah dalam beberapa hal, membahagiakan dalam beberapa hal,
tetapi juga penuh kesedihan dalam beberapa hal. Seperti kehidupan yang tak
mungkin berisi kebahagiaan atau penderitaan sepenuhnya.
Semoga siapapun yang
membaca ini bisa mengambil ibrah dan
pembelajaran yang bermanfaat. Apabila ada kesamaan nama, peristiwa, dan
sejenisnya, itu mungkin hanya “kebetulan” yang Alloh gariskan.
TENTANG RUMAH
Keluargaku tergolong keluarga menengah ke bawah. Menjadi masyarakat kelas menengah itu terjepit dari dua sisi sekaligus. Disebut orang tidak mampu, tetapi alhamdulillah kami masih bisa memenuhi kebutuhan dasar primer sebagaimana mestinya, tetapi dalam beberapa hal yang sekiranya memerlukan biaya cukup besar, kadang kami merasa kesulitan dan berada di posisi dilemma.
Dulu, sebelum orangtuaku bisa membangun rumah yang sekarang. Kami tinggal di sebuah rumah panggung atau rumah yang berlantai papan kayu. Kondisinya cukup memprihatinkan, menurutku. Bagaimana tidak, bahkan kami tidak memiliki kamar mandi di dalam rumah. Waktu aku kecil sampai remaja muda, aku harus mandi ke sebuah kamar mandi terpisah di belakang rumah yang bisa terlihat oleh tetangga. Kondisi dapur kamipun jauh dari kata layak. Ubrug atau tempat menyimpan barang-barang tidak terpakai berdampingan dengan dapur yang berisi hawu atau tungku api. Di luar dinding dapur berjejer suluh atau kayu bakar.
Lahan di belakang rumah selalu menjadi tempatku bermain bersama teman-teman. Tentang permainan apa saja yang pernah kumainkan, akan kuceritakan di chapter lain. Rumah orangtuaku saat itu berdempetan dengan rumah Almh. Nenek dari pihak ayah. Aku yakin Kakek Nenekku sangat baik sebenarnya. Namun, waktu aku masih kecil, Nenekku selalu saja menegur anak-anak yang bermain. Misal jika kami bermain di tepi kolam, pasti disuruh bermain di tempat lain. Positifku sekarang, mungkin Nenek hanya berjaga-jaga menghindari hal yang tak diinginkan, tetapi cara yang dilakukan Nenekku untuk menegur kadang sangat menyakitkan hati.
Kamarku waktu itu hanya bagian ruangan kecil yang disekat oleh lemari besar untuk memisahkan ruang tamu dengan kamarku. Bahkan aku tidak punya pintu kamar, karena memang kasurku ada di sebelah dinding kamar orangtuaku. Untuk sholat pun aku harus menumpang di kamar orangtuaku. Lemariku juga disimpan di kamar orangtuaku. Bisa terbayang kan seberapa kecil dan sempitnya rumahku? Tak lupa, bagian langit-langit rumah, yang terbuat dari bilik, terlihat bolong dan hampir jatuh akibat adanya pasir dari waktu meletusnya Gunung Galunggung sekitar pada tahun 1980-an.
Teman-teman sekolahku selalu bertanya dan ingin berkunjung ke rumahku. Pikiranku saat itu, aku sangat malu jika mereka tahu bagaimana kondisi rumahku. Maafkan aku, Mah Pah, saat itu pemikiranku masih belum mengerti tentang perjuangan. Akibatnya, aku tidak pernah mengajak teman-teman sekolahku untuk bermain ke rumah, kecuali teman-teman sepermainan sekampung.
Profesi ayahku adalah seorang sopir truk, alhamdulillah saat itu ayahku sudah punya mobil truk sendiri. Selain itu, orangtuaku juga memiliki beberapa bidang tanah sebagai lahan pertanian.
Sepertinya tentang rasa maluku terhadap rumah ini, menjadi salah satu alasan ayahku menjual salah satu mobil truknya (waktu itu ayahku punya 2), dan menjual salah satu tempat bertaninya, dan hasil penjualan itu dipakai untuk membangun rumah yang lebih layak dan bagus, di tempat yang tidak jauh dari rumah yang dulu.
Alhamdulillaah... Rumah yang dimimpikan pun akhirnya selesai dan bisa ditempati. Aku sangat senang sekali, akhirnya aku punya kamar yang berpintu. Aku punya meja belajar di dalam kamar tidur. Aku bisa melaksanakan sholat di kamarku sendiri. Aku bisa menyimpan lemari bajuku di kamarku sendiri. Maafkan aku, Mah Pah... Terima kasih yang sebesar-besarnya.
Sejak pindah rumah, aku tidak pernah sekalipun malu untuk mengajak teman-temanku berkunjung ke rumah. Namun memang keinginan manusia itu tidak pernah puas dan terbatas. Setelah satu hal terpenuhi, aku juga ingin punya barang-barang yang biasa ada di rumah keluarga-keluarga lain, seperti televisi dengan layar yang tidak kecil, ada lemari es, dan sebagainya. Alhamdulillah lagi Alloh mengabulkannya.
Sekarang aku sadar, sebenarnya setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, keluarganya. Justru perjuangan dan proses untuk mencapai cita-cita itulah yang paling berharga. Orangtua kita bahkan tidak pernah sedikitpun mengungkapkan kekesalan dan rasa sakit hati atas apa yang kita tuntut. Mereka dalam diam mengusahakan, memperjuangkan, megupayakan yang terbaik.
Jadi, bagi siapapun yang mungkin saat ini mengalami hal yang pernah kualami, yakinlah orang-orang terkasih kita sedang berusaha. Bersamailah mereka.
Apalagi saat ini harga tanah, rumah, bahan-bahan rumah sangat sangat mahal sekali, bahkan tidak sebanding dengan penghasilan rata-rata masyarakat kelas menengah. Mungkin saat ini ada yang sedang mengontrak, menyicil, menumpang, atau bahkan bertahan di rumah yang belum layak. Semoga Allah selalu melapangkan hati, jiwa, dan pikiran kita. Meluaskan kemampuan dan rezeki kita semua. Dimudahkan semuanya. Aamiin...
At the end, rumah itu bukan hanya tentang fisik, tetapi tentang jiwa, rasa nyaman, aman, kebahagiaan yang diciptakan di dalamnya.

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful