Perhatikan Kebiasaanmu || Belajar Hidup #11
Aku adalah salah satu orang yang sering upload status di media sosial, kebanyakan momen-momen saat aku bersama Ayah dan Bunda, jalan-jalan, atau berkunjung ke suatu tempat. Hanya sesekali saja aku upload foto selfie selebihnya sering kuunggah foto berupa pemandangan alam sekitar dengan sedikit kemampuanku dalam fotografi. Ayahku termasuk orang yang jarang sekali mengunggah foto atau status, meskipun setiap foto profil akun Ayah selalu bersama Bunda, tapi Ayah jarang mengunggah kemesraannya dengan Bunda. Kalau Bundaku? Sama saja seperti Ayah, tidak sering mengunggah foto, tapi Bunda lebih sering membagikan link tentang artikel atau jurnal atau apapun yang berhubungan dengan sejarah dan pendidikan. Bisa kumaklumi memang Bunda harus menjaga image-nya sebagai seorang guru. Tapi belakangan aku mengerti kedua orangtuaku tidak pernah membagikan kemesraan mereka dalam media sosial, salah satu alasannya adalah prinsip mereka, lagi-lagi tentang prinsip, yang tidak suka mengumbar kebahagiaan atau pun kesedihan menjadi konsumsi publik. Aku salut juga pada mereka yang dapat menahan diri untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi mereka dalam media sosial.
![]() |
| Foto oleh Marco Alhelm: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-orang-masyarakat-rakyat-manusia-26928191/ |
Aku juga sudah selesai membaca buku yang Bunda rekomendasikan minggu-minggu sebelumnya, buku yang berjudul Socrates Cafe, dan itu cukup memengaruhiku untuk mengurangi frekuensi mengunggah foto-foto atau kegiatan-kegiatan pribadiku serta lebih hati-hati dalam membagikan apapun secara online. Dunia digital itu kejam.
Tak lupa, kebersamaan kami saat di Jakarta minggu kemarin sudah kucetak dan dimasukkan ke dalam album foto kami bertiga. Tak lupa juga, beberapa foto kuunggah di media sosial. Bunda memang selalu mengingatkanku untuk tidak sembarang mengunggah foto atau status, dan ada beberapa peraturan yang mesti selalu kuingat, seperti tidak boleh mengunggah foto yang tidak menutup aurat, membuat status kebencian atau sedang dalam keadaan mood kurang baik, bahkan ketika memiliki rezeki berupa kenikmatan materi pun Bunda mewanti-wanti untuk tidak mengumbarnya di media sosial. Misalnya, saat kuakan mengunggah foto masakan buatan Bunda, Bunda akan menolak, dan beralasan bahwa tidak semua orang yang melihat statusku itu merasa senang atau bahkan terinspirasi, bisa jadi ada orang-orang yang merasa iri dan malah mengacaukan hari mereka. Ya, mungkin itu merupakan sebuah pemikiran yang terlalu jauh, tapi aku selalu mengerti bahwa Bundaku memang sangat berhati-hati dalam segala hal.
Hari Kamis, aku mengikuti ujian Kimia, dan nilainya dikirim melalui email pada hari Sabtu. Kulaporkan pada Bunda bahwa aku hanya mendapat nilai 76 saja, itu pun sudah penuh perjuangan. Tahukah bagaimana reaksi Bundaku? Ia hanya tersenyum saja, mengapresiasi usahaku, dan memotivasiku agar lebih giat dan semangat lagi belajar. Dan selalu dikeluarkannya kata-kata mutiara berupa, jika aku tidak bisa unggul dalam semua mata pelajaran, maka aku harus unggul setidaknya dalam satu mata pelajaran yang paling kuminati. Dan... tenang saja, aku tetap unggul dalam mata pelajaran bahasa dan fisika.
Kali ini, Two Hours kami tidak hanya berdua saja, Ayah akan ikut berdiskusi juga. Kuyakin ini akan lebih menyenangkan. Tapi entahlah apakah Ayah akan fokus atau tidak, karena dari tadi ia tidak hanya diam, ada saja yang dilakukannya, keluar masuk dapur dan halaman belakang.
Bunda sedang membuat beberapa bolu kukus untuk diberikan kepada Kakek di Garut, karena rencananya, hari Selasa, Ayah dan Bunda akan menghadiri acara pernikahan salah satu sepupu Bunda. Aku tidak ikut, karena jadwalku padat sampai sore.
Aku pun sesekali membantu Bunda, entah itu mengaduk adonan dengan mixer, apapun itu yang mudah untuk dilakukan.
"Bun, mau buat berapa biji?"
"Lima, Sa."
"Oh dua-dua, ya." Maksudnya dua untuk kakekku dari pihak Ayah dan dua lagi untuk Kakekku dari pihak Bunda, satunya lagi untuk kami bertiga.
"Bun, hari ini bagaimana kalau kita bahas tentang habit? Soalnya, tadi aku habis lihat sebuah video motivasi tentang habit yang bisa 'mengubah segalanya'."
"As you wish, Sa."
"Bun, menurut Bunda bener gak sih kebiasaan itu sangat memengaruhiku kehidupan kita?"
"Menurut Bunda benar, tapi bisa saja dalam beberapa hal ada faktor lain yang bisa membantah hal itu. Tapi, sepertinya, sejauh yang Bunda rasakan, habit atau kebiasaan memang benar-benar berpengaruh."
"Ya, aku pun berpendapat sama."
"Banyak juga teori yang lahir dari penelitian-penelitian tentang habitual, seperti untuk menjadi seorang master dalam bidang yang disukai setidaknya perlu 10000 jam untuk latihan atau practice. Kemudian, ada juga yang berpendapat bahwa kebiasaan baik yang dibangun sejak dini bisa menentukan atau setidaknya memberikan gambaran untuk akan menjadi seperti apa kita di lima tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun yang akan datang."
"Ya, ya, ya, aku pernah dengar teori itu, Bun. Tapi kan tidak sedikit juga orang-orang yang tidak memerhatikan kebiasaannya atau ya katakanlah kebiasaannya banyak yang tidak baik, tapi pada akhirnya ia sukses juga, itu kira-kira gimana, ya, Bun?"
"Ya, seperti yang Bunda katakan tadi, Sa, ada faktor-faktor lain yang memengaruhi, mungkin saja ia pernah melakukan suatu kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang, lalu Allah membalasnya dengan suatu perubahan baik dalam hidupnya. Atau Allah sedang mengujinya. Dan ada begitu banyak hal yang terjadi di luar kendali kita."
"Oh, oke, Bun, apakah itu juga berkaitan dengan keberuntungan dan kerja keras?"
"Haha. Begitulah, Sa, kita kadang lupa ada kebaikan apa yang telah kita lakukan sehingga itu menjadi alasan kita ditolong Allah di kemudian hari, dan ada juga sesuatu yang benar-benar harus kita perjuangkan berdarah-darah, kerja keras, dan kerja cerdas ketika akan menggapainya."
"Duh, bingung, Bun." Aku menggaruk kepalaku yang terhalangi kerudung hitamku ini.
"Tidak mengapa, kamu bingung, itu artinya kamu berusaha berpikir, berusaha memahami. Perlahan aja, Sa."
"Intinya, Sa, perhatikan dengan penuh kesadaran, baik-baik, semua kebiasaan yang kamu lakukan dalam hidup. Bukankah kamu memiliki schedule yang tiap malam kamu evaluasi dan tuliskan untuk besoknya?"
"Ya, Bun."
"Bunda tidak memaksamu untuk menjadi orang yang terpaku pada schedule, dan menjadi orang yang kaku. Bunda tetap menginginkan kamu menjadi orang yang fleksibel, sehingga dapat bijak mengatur apa saja yang harus kamu lakukan, serta bisa mengambil dan memanfaatkan kesempatan yang mungkin tiba-tiba datang di luar apa yang sudah kamu catat. Schedule yang kamu buat juga bukan hanya dijadikan sebagai hiasan saja di dinding kamarmu, atau dalam notes handphone-mu, atau bahkan hanya memenuhi setiap lembaran buku jurnalmu, tapi itu sebagai sarana agar kamu dapat memahami apa yang kamu butuhkan, apa yang perlu kamu lakukan saat luang, target yang ingin kamu capai sehingga tidak banyak distraksi yang mengganggumu, dan manfaat-manfaat lainnya.
"Jadi, Sayang, seperti yang dikatakan Lao Tzu, perhatikan apa yang kamu pikirkan karena itu akan menjadi perkataan, perhatikan perkataanmu karena itu akan menjadi tindakanmu, perhatikan tindakanmu karena itu akan menjadi kebiasaanmu,"
"Karena itu akan menjadi karaktermu, perhatikan karaktermu karena itu akan menjadi takdirmu."
"Correct!"
"Wah, benar-benar menggugah, Bun, aku juga jadi ingat bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Dan semuanya berawal dari dalam pikiran kita, ya, Bun?"
"Betul. Seperti halnya, kita saat main handphone, perhatikanlah apa-apa saja yang kita lakukan selama memegangnya, apakah bermedia sosial sampai lupa waktu, atau menonton video-video sampai lupa waktu juga, atau membaca buku digital yang memberikan ilmu baru, membaca artikel informasi di internet, dan masih banyak hal lainnya."
"Hm..." Aku mencerna perkataan Bunda, sampai tiba-tiba Ayah datang.
"Nah, Abhisa, sering online di media sosial, lagi ngapain, lho?"
"Apa sih Ayah, datang tiba-tiba nuduh aku."
"Haha. Nih, Sayang, bunganya udah dipilih yang paling bagus, untuk bolu buatan istriku."
"Ih, Ayah, lebay!" Aku mengejek Ayah yang sedang menggoda Bunda.
"Cuci tangan ih!" Bunda mengangkat satu jarinya menyuruh Ayah cuci tangan terlebih dahulu, yang berusaha mencicipi bolu yang sudah matang. Kami bertiga pun tertawa melihat ekspresi Ayah yang menggelikan.
"Sa, hati-hati, ya, perhatikan kebiasaanmu, apalagi dalam bertindak-tanduk saat berhubungan dengan orang lain, atau bahkan dalam media sosial. Jaga privasimu. Mungkin kamu kesal Bunda seakan mengaturmu, Bunda hanya memberi warning saja. Kamu pasti paham, karena kamu adalah anak perempuan cerdas kesayangan Bunda dan Ayah."
"Aku tidak merasa diatur, Bun, justru aku bahagia Bunda memerhatikanku dan mendidikku sepenuhnya, aku sayaaang sama Bunda."
"Cuma Bunda aja nih?" Ayah menyela, aku memotong bolu kukus di depanku dan memberikannya pada Ayah dan kemudian pada Bunda.
Watch your thoughts, they become your words; watch your words, they become your actions; watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.
~Lao Tzu
8 September 2019

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful