Penyesalan di Usia 22
![]() |
| Foto oleh Pavel Danilyuk |
Banyak
orang berkata bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir, karena kalau di awal
namanya pendaftaran. Ya, ungkapan itu ada benarnya. Seperti apa yang terjadi
padaku. Biasanya penyesalan datang dari kekecewaan terhadap sesuatu yang tidak
sesuai dengan kehendak. Semakin kita belajar, semakin bertambah pengalaman,
maka pandangan terhadap sesuatu biasanya tak sama lagi dengan sebelumnya, dalam
beberapa hal, of course.
Meski
saat tulisan ini dibuat aku sudah berusia 26 tahun, tetapi bagian ini kubatasi
saja sebagai penyesalan sampai usiaku 22 tahun, karena ternyata banyak
keputusan-keputusan yang kubuat di sekitar usia itu yang kuabaikan. Namun, impact-nya terasa sampai sekarang. Aku
ingin ini bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca.
Pertama,
aku menyesal pernah berpacaran. Menyukai seseorang itu wajar dan fitrah
manusia. Perempuan atau laki-laki normal pasti pernah merasakan sebuah getaran
dalam hati ketika kita bertemu atau memikirkan seseorang yang disukai. Namun,
kita seringkali terbuai dan menormalisasi pacaran. Setelah aku dewasa, sekarang
terpikir bahwa itu adalah salah satu keputusan terbodoh dalam hidupku. Aku
tidak menyesal pernah menyukai seseorang, tetapi aku menyesal karena pernah
menjalin hubungan yang sangat tidak perlu di usiaku yang sangat-sangat belum
matang, terutama secara finansial dan emosional.
Memang
darah muda itu selalu ingin berbuat sesuai dengan kehendak hati. Namun, pacaran
itu lebih banyak negatifnya daripada sisi positifnya. Waktu lebih banyak
terbuang untuk sesuatu yang tidak penting seperti terlalu sering berkirim
pesan, mengobrol lewat telepon, sering bertemu yang malah justru tidak penting,
hanya nafsu belaka. Padahal waktu-waktu itu bisa digunakan untuk hal-hal yang
lebih bermanfaat. Misalnya, mengasah soft
skills dan hard skills. Berapa
banyak anak muda di luar sana yang sukses karena memilih mengisi waktu mereka
dengan sesuatu yang bermanfaat, sedangkan beberapa anak muda (termasuk aku pada
saat itu) malah terlena membuang-buang waktu. Sungguh merugi.
Selain
waktu, tenaga pun terkuras. Kita seringkali melakukan usaha atau efforts yang sebenarnya tidak perlu. Gak penting. Tenaga masa muda bisa
disalurkan pada hal lain yang berguna. Emosional pun lebih mudah lelah
terkuras, ya kalau lagi senang-senangnya memang membahagiakan, tapi tak sedikit
hubungan yang malah toxic sehingga
menghancurkan mood, hancurnya mood ini berpengaruh pada hal lainnya,
jadi malas, sering marah-marah gak jelas, dan emosi negatif lainnya.
Kalau
dirinci lebih dalam lagi tentu banyak yang sepakat bahwa pacaran ini lebih
banyak tidak manfaatnya. Maka dari itu, aku menyesal, aku menyesal pernah ada
di fase itu, sedangkan banyak dari teman-temanku yang memilih fokus
berprestasi, mengejar mimpi, dan memanfaatkan waktu berharga mereka pada hal
yang positif, sehingga tak heran di usia ini mereka perlahan-lahan menemukan
dan membentuk jalan yang sukses untuk kehidupan mereka.
Walaupun
begitu, saat ini tidak ada gunanya aku berlarut pada sesuatu yang tak bisa lagi
diubah. Kini aku pun sudah menikah dan berkeluarga. Aku tetap bertekad, untuk
tidak menormalisasi pacaran. Aku mempunyai seorang anak laki-laki yang harus
kujaga dan kudidik sebaik-baiknya. Aku tidak ingin anakku mengalami hal yang
sama denganku.
Kedua, penyesalanku
berikutnya adalah bahwa aku memilih menikah muda. Perlu aku tekankan, bahwa ini
tidak bermaksud bahwa aku tidak mencintai suamiku ataupun menentang pernikahan.
Tidak. Namun, ini kumasukkan sebagai salah satu penyesalanku, karena aku
memilih menikah muda. Menurutku, pernikahan itu berat. Perlu tanggung jawab,
kesiapan, dan kesadaran yang baik bahwa menikah itu bukan hanya tentang dua
orang yang ingin hidup bersama.
Aku
yang ambis, penuh mimpi, dan memiliki banyak hal-hal yang ingin dicapai, merasa
bahwa menikah itu sedikit membuat ambisiku tersendat. Sebenarnya suamiku sangat
baik, tidak melarangku untuk bekerja dan menggapai mimpi, tetapi menurutku
ketika perempuan sudah menikah langkah mereka menjadi lebih tertahan. Apalagi
kalau kita berasal bukan dari keluarga kaya tajir melintir. Kalau kita terlalu
fokus dengan mimpi, misalnya dengan berkuliah di luar negeri, atau bekerja di
luar pulau, maka bagaimana dengan suami dan anak kita?
Bahkan
aku yang saat ini sedang bekerja pun seringkali dihantui rasa bersalah, karena
dari pagi sampai siang aku tidak membersamai tumbuh kembangnya. Namun, aku
benar-benar tidak mampu jika harus hanya diam di rumah. Selain itu, pekerjaanku
menjadi lebih banyak dan bertambah dan itu sangat-sangat menguras energi dan
emosionalku. Kadang aku berpikir bahwa aku memang sebenarnya belum siap untuk
menikah, tetapi kemudian aku menenangkan hati dengan pikiran-pikiran positif.
Belum lagi dengan berbagai permasalahan rumah tangga lainnya.
Namun,
seseorang pernah menasihatiku, bahwa Alloh yang telah memberikan saat lebih
cepat untuk aku bisa beribadah dengan pahala-pahala yang berlipat-lipat melalui
menikah.
Intinya,
aku memberi saran pada semua perempuan bahwa lebih baik selesaikan dahulu
cita-cita dan mimpi kalian sebelum benar-benar memutuskan menikah. Tidak apa
kok menikah di usia 27, 29, 30 atau bahkan lebih dari 30. Jangan takut dengan
ucapan orang lain yang sama sekali belum tentu berkontribusi kalau kita menikah
lebih cepat.

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful