Pengalaman Saat Mengaji di Waktu Kecil
![]() |
| Foto oleh Quang Nguyen Vinh: https://www.pexels.com/id-id/foto/ |
Dahulu, saat aku masih usia anak
SD. Di kampungku setiap anak harus mengikuti sekolah agama atau mengaji sore di
masjid kampung. Saat di mana kami belum mengenal gawai atau handphone. Sepulang sekolah kami bermain
bersama di luar rumah. Ada hampir 10 sampai 20 anak yang ikut bermain. Jenis
permainan pun banyak, mulai dari sondah,
galah, ucing-ucingan, masak-masak, dagang, balap sepeda, bekel, dan masih
banyak lagi permainan seru lainnya. Mungkin di beberapa daerah berbeda cara
bermain dan namanya, tapi kuyakin hampir di banyak daerah atau kampung
anak-anak kecil pasti senang bermain di luar.
Aku masih ingat beberapa kenangan
yang tak terlupakan pada masa itu. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok usia
untuk menentukan materi mengaji. Misalnya anak-anak usia TK dan SD akan difokuskan
pada baca tulis Qur’an sederhana dan hafalan surat-surat pendek. Kemudian usia
remaja awal hingga usia SMA biasanya sudah fokus pada bacaan dan tajwid Al-Quran serta sudah masuk
pembelajaran kitab-kitab.
Pada saat itu, ada beberapa
laki-laki dari kelas remaja yang cukup memikat hati. Ya, namanya juga awal-awal
masa remaja pasti sudah bisa melihat dan menunjukkan ketertarikan pada lawan
jenis. Sebut saja namanya Ilham (nama samaran). Dia adalah salah satu laki-laki
yang cukup tampan dan disukai banyak orang. Pembawaannya ceria dan humoris.
Memiliki bulu mata yang lentik dan memikat. Singkat cerita, aku diam-diam
menaruh rasa suka dan kagum. Setiap kegiatan mengaji yang melibatkan semua anak
sekaligus, maka aku akan curi-curi pandang untuk melihat wajahnya yang tampan.
Kemudian, tiap awal waktu sebelum
mengaji dimulai, aku akan melihat kesana kemari apakah dia sudah datang atau
belum. Kalau kulihat sekilas dirinya datang, maka hatiku secara langsung merasa
berbunga-bunga. Sebaliknya, jika sampai adzan berkumandang dan dia belum muncul
juga, maka hatiku merasa sedih dan kurang semangat mengaji. (Memang lebay jika
kuingat dan pikir lagi. Haha. Memang semua ada masanya.)
Pada suatu kegiatan, ada lomba cerdas
cermat yang setiap ketua kelompoknya dari angkatan remaja. Nah entah mengapa,
ternyata aku dikelompokkan dengan Ilham ini. Kita berkelompok sebanyak tiga
orang, aku tak ingat siapa satu orang lagi. Kemudian tibalah saat ketika kami
mulai berlomba. Dan akhirnya kita mendapatkan juara 2. Saat itu aku senang
bukan kepalang. Aku bisa satu tim dengan orang yang kusukai dan mendapatkan
juara 2 dan juga dia memujiku karena aku bisa memberikan banyak jawaban yang
tepat.
Pada murid perempuan aku berteman
dekat dengan tiga orang teman lainnya, sebut saja nama samarannya Reva, Aini,
dan Dina. Kamipun diam-diam memiliki orang yang diam-diam kami sukai, hanya
saja kami belum menceritakan secara gamblang siapa saja orangnya.
Suatu ketika, kami berempat belum
pulang seusai mengaji selesai. Kemudian kami isenglah membuka satu per satu
buku dan kitab milik santri laki-laki. Setelah kami buka satu-satu, kami dapati
di salah satu buku kitab yang terdapat nama Dina di dalamnya, dengan tulisan
yang sengaja direka indah. Kami pun penasaran siapakah pemiliknya, kamipun
membuka halaman pertama, dan tertera nama Ilham. Betapa teririsnya hatiku,
mengetahui fakta laki-laki yang kusukai ternyata menyukai teman dekatku.
Berusaha menutupi kekecewaan, aku
bersama dua teman lainnya langsung menggoda Dina seperti halnya seorang teman. Nampaknya
Dina pun memiliki rasa yang sama, karena alih-alih marah, dia malah tersenyum
simpul.
Maka sejak saat itu, perasaan tak
terbalasku pada Ilham perlahan hilang dan sirna. Meskipun memerlukan waktu yang
cukup lama. Rasa sakit menahan cinta bertepuk sebelah tangan ini membuatku
kadang menjadi tidak semangat untuk mengaji. Namun, aku selalu dinasehati untuk
selalu semangat dan jangan berhenti mengaji kalau bukan alasan yang urgensi.
Aku berpikir dan merenung, mengapa Ilham
bisa menyukai Dina, padahal secara keaktifan saat belajar, dia termasuk murid
yang biasa aja. Dan setelah kupikir ternyata paras cantiknyalah yang memikat
Ilham. Bahkan kemudian kuketahui banyak murid remaja lainnya yang menyukai
Dina. Kuakui memang Dina ini rupanya cantik dan berkulit cerah. Sedangkan aku
sendiri memang kurang cantik. Bahkan beberapa kali aku suka dengan laki-laki
yang ternyata si laki-laki itu menyukai Dina. Meskipun begitu aku tak pernah
menunjukkan rasa kecewa karena memang aku tak pernah membuka nama laki-laki
yang kusukai.
Sekarang bila kuingat lagi masa-masa
itu rasanya campur aduk sih. Tapi
tetap ada pelajaran hidup yang kuambil. Meksipun saat ini kami sudah tidak
dekat lagi. Dan it’s ok. Aku tak mau
memusingkan sesuatu yang tidak penting. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu.
Lagipula kami semua masing-masing sudah berumah tangga dan memiliki pasangan
masing-masing. Tak ada satupun dari kami dan laki-laki yang kusukai menikah
dengan orang dari masa lalu. Semuanya menikah dengan orang baru.

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful