Malu Berbahasa Daerah (?) || Belajar Hidup #9
Sekolahku selalu mengadakan perlombaan antar kelas untuk meramaikan kegiatan sebelum hari kemerdekaan. Ada beragam jenis lomba yang bisa diikuti semua siswa untuk mewakili kelasnya, mulai dari pidato bahasa Inggris, story telling, debat bahasa Inggris, musikalisasi puisi, debat tematik, desain grafis, seni lukis, seni tari, seni musik, tak ketinggalan juga dalam bidang keolahragaan.
![]() |
| Foto oleh Umar Faruq |
Kulihat pamflet berisi ajakan dan informasi seputar perlombaan, yang kuterima dari ketua kelas. Tak ada lomba fotografi, tak ada juga lomba mengarang cerita pendek. Entah apa yang menyebabkan bidang itu tak ada di perayaan 17 Agustus tahun ini. Aku kecewa, karena tahun lalu selalu ada lomba fotografi dan mengarang cerpen. Aku tidak absen mengikuti lomba itu, tapi kini keinginanku untuk berpartisipasi jadi sirna begitu saja. Aku sempat bertanya-tanya pada temanku yang merupakan anggota OSIS perihal alasan dihapuskannya lomba itu, tak ada jawaban yang memuaskan.
Lalu kuadukan saja pada Bunda, mengapa kian lama seakan-akan keterampilan menulis dipandang sebelah mata, bahkan untuk berbahasa di sekolah pun ada hari di mana mewajibkan siswanya berbahasa asing, Inggris tentu saja.
Bukannya aku tidak setuju, toh aku pun diajarkan oleh Bunda untuk menguasai beberapa bahasa, tapi bukan berarti harus melupakan bahasa daerah juga, kan?
Sangat jarang kutemukan lomba yang berhubungan dengan bahasa daerah, seperti membuat puisi bahasa Sunda, carita pondok, dan lain sebagainya.
Kegelisahan ini pun akan kuceritakan pada Bundaku hari Ahad nanti.
*
"Bun, kali ini aku gak ikutan lomba di sekolah." Aku yang terlihat murung sambil memandangi ikan-ikan di kolam, di halaman belakang rumah. Ahad ini kami tidak keluar, karena Bunda sedang kurang enak badan.
"Kenapa, Sa?" Bundaku tersenyum melihat ikan-ikan yang ricuh diberi pakan.
"Bukan karena kamu anak Bunda, kan?"
"Bukan lah, Bun."
"Terus kenapa?"
"Tahun sekarang gak ada lomba fotografi sama mengarang cerita pendek, katanya sih karena peminatnya sedikit, jadi cabang lomba itu dihilangkan."
"Hm... Begitu, ya. Jika saja banyak sedikitnya peminat tidak menjadi persoalan, dan tujuan utamanya sebagai ajang mengembangkan minat-bakat siswa, seharusnya perlombaan apapun, tetap harus diadakan. Contohnya, seperti kamu ini, mungkin ada banyak siswa lainnya yang merasakan hal sama, ketika pilihan cabang perlombaan tak ada satu pun minat mereka, sayang sekali keterampilan mereka menjadi terpendam. Tapi, Sa, bukannya kamu juga sering ikutan lomba-lomba di luar sekolah? Jadi, kenapa kamu harus kecewa?"
"Ya, seperti yang Bunda katakan barusan, harusnya kan sekolah sebagai sarana mengembangkan kemampuan siswa dapat memfasilitasi berbagai macam minat siswanya yang tentu saja berbeda-beda. Mau semangat gimana kalau tidak ada dukungan dan dorongan dari sekolah?"
"Iya, Sa, Bunda paham kekecewaanmu, kalau begitu kenapa tidak, ajukan saja olehmu lewat surat aspirasi?"
"Aku sudah sempat tanya-tanya sama temanku, Bun, tapi ya itu jawabannya karena peminatnya sedikit bla bla bla." Bundaku terdiam.
"Bun, sebenarnya aku malu, dulu waktu aku pertama masuk SMA, pernah merasa malu berbicara bahasa Sunda, lho." Bundaku langsung menatapku tajam.
"Tapi itu dulu, Bun. Sekarang aku jadi malah prihatin, ternyata yang merasa seperti itu buanyak banget."
"Riset dari mana, Sa?" Aku yakin Bundaku juga paham fenomena ini, tapi beliau berpura-pura tidak tahu sepertinya.
"Hm... Di mana-mana, Bun, bahkan hampir setiap hari di sekolah, aku jarang sekali mendengar orang ngobrol pakai bahasa Sunda, padahal kita hidup di daerah Sunda yang mayoritas berbahasa Sunda."
"Sekolah kan tempat formal, Sa, orang-orangnya berasal dari berbagai latar belakang, kita kan gak tahu apakah semua siswa berasal dari Sunda." Bundaku mencoba menjadi antitesis.
"Oke, contoh lainnya," Aku berpikir keras mencari contoh yang kuat.
"Iya, Sa. Bunda paham. Kalau kamu sudah baca pemikiran-pemikiran Ajip Rosidi tentang bahasa Sunda, memang faktanya banyak orang Sunda yang malu berbahasa Sunda. Kamu pernah memikirkan gak, apa yang menjadi faktornya?"
"Kalau berdasarkan pengalamanku, Bun, jadi orang Sunda tuh kan ada logatnya, terus sering menggunakan kata teh, atuh, mah, dan itu suka dijadikan lelucon dengan logatnya yang khas. Itu salah satunya."
"Iya, betul, tapi kalau ditilik lagi, semua suku bangsa punya logatnya masing-masing, kok, lalu kenapa harus malu? Tambahan, ada hubungannya dengan undak-usuk basa yang diajarkan di sekolah-sekolah."
"Oh, yang itu, ya, Bun, duh apa sih, yang pembagian kata untuk orang yang lebih dewasa, yang seumuran, sama untuk orang lain, yang itu kan, Bun?"
"Betul. Kamu tahu gak asal usulnya bagaimana?"
"Gimana, Bun?"
"Coba baca sejarahnya. PR buat kamu."
"Aduh, Bun, kenapa gak dijelaskan sekarang aja?!"
"Hm... Lanjut, ya. Ada semacam sanksi sosial ketika orang Sunda berbahasa Sunda yang belum benar undak-usuk basa-nya, hal itu menimbulkan rasa takut untuk mencoba dan memilih menggunakan bahasa Indonesia saja yang lebih egaliter dibanding berbahasa Sunda, terus salah, terus malah dipermalukan atau dipermasalahkan. Beberapa warisan feodalisme yang masih dipakai sampai saat ini. Berdasarkan buku yang Bunda baca, Bunda setuju dengan pandangan Ajip Rosidi tentang dihilangkannya materi undak-usuk basa di sekolah. Atau setidaknya dipilih kata-kata mana saja yang tetap dapat dipertahankan dan mana yang dijadikan sebagai sinonim saja, daripada diterapkan untuk membedakan mana orang yang lebih tua, lebih muda, dan sebagainya. Solusi lainnya yaitu lebih baik diberikan materi tentang paribasa, atau menulis karangan berbahasa Sunda, dan sebagainya. Bunda yakin kok, masih banyak orang-orang yang peduli untuk melestarikan bahasa Sunda, jangan hanya dijadikan ajang komersil saja saat kedatangan wisatawan lah, atau acara-acara tertentu saja lah,"
"Iya juga, ya, Bun, aku mulai tercerahkan, sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan begitu saja mereka yang tak ingin berbicara bahasa Sunda, karena terkadang adanya aturan undak-usuk basa yang rumit itu, menjadi alasan lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja. Tambahan juga, Bun, sekarang ini ada mindset yang berkembang di masyarakat yang terlalu membangga-banggakan budaya orang lain, dan justru merendahkan budaya sendiri, bahkan mirisnya ada yang sampai merasa naik derajat kalau berbahasa Indonesia atau berbahasa asing, konyol juga, ya, Bun."
Sejak kecil, Bunda sering mengajariku bahasa Sunda sekaligus Indonesia dan Inggris. Jadi ingat, dulu pernah saat ditanya oleh Kakek, aku malah menjawabnya dengan bahasa loma, salah satu bagian undak-usuk basa Sunda yang digunakan kepada orang yang seumuran. Aku pun dimarahi, dan Bunda hanya tersenyum saja. Meskipun memang Bunda selalu mengajarkanku tentang kesopanan. Tapi, mungkin pemikiran Bunda sejalan dengan pemikiran Ajip Rosidi.
"Sa, tapi kalau sedang berada di lingkungan komunitas orang yang bisa berbahasa Sunda, lebih baik gunakan saja bahasa Sunda. Memang kita harus fasih berbahasa Indonesia karena itu bahasa persatuan kita agar mudah berkomunikasi dengan sesama bangsa Indonesia, namun tetap harus melestarikan bahasa ibu kita karena kalau bukan kita yang menggunakannya mau siapa lagi, kemudian pelajari bahasa asing, karena di era globalisasi ini, kita terkoneksi bukan hanya dengan orang dalam negeri saja, melainkan dengan orang dari berbagai belahan dunia."
"Setuju, Bun." Aku mengacungkan dua jempol tanganku.
"Intinya sih, jangan malu berbahasa asli daerah kita, Sa, kenapa harus malu?"
"Kalau salah?"
"Salah itu wajar, supaya kita terus semangat belajar. Dan, saat orang lain salah, jangan dipermalukan, bersikap biasa saja, kalau mau diingatkan, ingatkan dengan cara yang benar. Bunda yakin, kamu pasti paham."
"Paham, Bun."
"Dan, ingat, baca bukunya Ajip Rosidi, ya, Sa!"
"Hehe. Oke, Bun, siap, laksanakan."
"Oh, ya, Bun, tapi aku pernah denger temanku yang gengsi berbahasa Sunda, karena menurutnya, bicara bahasa Sunda itu kampungan. Menurut Bunda gimana?"
"Menurut Bunda, pertama, usahakan kamu tidak memiliki pemikiran seperti itu. Kedua, jangan merendahkan, teruslah belajar, belajar, dan belajar. Ketiga, ajak dia untuk belajar dan obrolkan dengan santai untuk meluruskan pemikirannya. Keempat, jadilah 'gelas kosong' saat belajar dari pengalaman orang lain."
"Siap, Bun. Eh, 'gelas kosong'? Maksudnya gimana, Bun?"
"Tapi time's up, Sa."
"Tambah aja, ya, Bun, please..." Aku memelas walaupun aku tahu Bunda akan tetap mematuhi aturan yang sudah dibuat.
"Yaudah, aku akan terus belajar sampai berdiskusi lagi di minggu depan."
"Jangan cemberut, Sa, kan kita sudah belajar bagaimana menyikapi sesuatu saat tidak sesuai dengan kehendak kita."
Aku teringat untuk tidak berlebihan dalam mengekspresikan kekecewaanku.
"Duh, iya, Bun. Maaf, aku masih amatiran. Hehe."
You don't have to burn books to destroy a culture, just get people to stop reading them.
~Ray Bradbury

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful