Cacat Logika (Logical Fallacy) || Belajar Hidup #10
Selama tiga hari ke belakang yaitu dari hari Kamis sampai Sabtu telah dilaksanakan perlombaan yang diadakan oleh sekolah bersama panitia dari OSIS. Final perlombaan dilakukan setelah proses upacara sekaligus mengumungkan para pemenang. Aku tidak mendapatkan penghargaan apapun karena memang aku tidak mengikuti cabang perlombaan apapun. Ayahku pun bertanya-tanya mengapa aku tidak berpartisipasi. Kujawab saja, bahwa aku tetap berpartisipasi sebagai supporter. Kukira Bunda sudah menginformasikan pada Ayah, jadi aku tidak ingin berpanjang lebar menjelaskan.
![]() |
| Foto oleh Andrea Piacquadio: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-seni-3880823/ |
Tiga hari berturu-turut itu pun Bunda menjadi salah satu juri dalam lomba debat tematik yang hampir semua angkatan mengirimkan perwakilannya. Debat tematik ini tidak dikategorikan berdasarkan angkatan, jadi tidak menutup kemungkinan kelas 10 melawan kelas 12 dan sebagainya, karena memang banyak aspek yang menjadi tolok ukur penilaian.
Perlombaan debat pun berlangsung amat seru, bagaimana tidak, dengan disaksikan banyak orang di ruangan terbuka tentu membuat suasananya menjadi lebih ramai. Dan tak jarang siswa-siswa yang berakhir dengan perdebatan sengit, hingga beberapa guru harus turun tangan menenangkan, serta panitia harus sering-sering mengingatkan tentang peraturannya.
Ahad ini aku dan Bunda tidak berminat untuk pergi ke luar, bukan karena Bunda masih sakit, tapi kali ini karena kulihat Bunda cukup kelelahan dengan sederet kegiatan yang ia lakukan seminggu terakhir, apalagi Bundaku baru saja sembuh.
Kami hanya duduk-duduk di pekarangan belakang, melihat-lihat beberapa tanaman bunga sambil membersihkannya dari rerumputan liar.
"Bun, hari ini kita bahas topik apa?" Aku memulai Two Hours kami.
"Oh iya, Bunda kan mau jelasin tentang 'gelas kosong', ya, kan, Bun?"
"Duh, Bunda baru ingat, Sa. Hehe. Maaf, ya. Tapi sepertinya itu minggu depan saja, ya, sambil kita liburan ke Monas dan Perpusnas tea, Sa."
"Minggu depan kita ke Monas? Yeay! Akhirnya Ayah mau diajak ke Monas." Aku memang sudah lama mengajak Ayah untuk liburan ke Monas sembari berkunjung ke Perpusatakaan Nasional. Aku suka sebel karena Ayah sering menceritakan keadaan Perpusnas tapi tak kunjung membawaku ke sana.
"Giliran liburan, kamu mah semangat banget."
"Ya semangat lah, Bun, liburan kan refreshing, me-naffakuri hidup, men-tadabburi dunia, mengambil pembelajaran, terus..." Aku mencoba mencari-cari alasan sambil menghitungnya dengan jari.
"Iya, iya, Sayang." Bunda tersenyum geli melihat tingkahku.
"Hehe... Haturnuhun, Bundaku..."
"Oke, Sa. Eh, Sa, punten tolong ambilkan itu pot yang sebelah sana, kita pindahkan ke sini."
"Siap, Bun. Jadi sekarang bahas apa, Bun?" Aku kembali menanyakan topik minggu ini sambil membawa pot yang Bunda maksud.
"Waktu lomba debat tematik dari 30 kelas yang ada, semuanya daftar kecuali dua kelas kalau tidak salah, nah semua perwakilan kelas itu sungguh memiliki ciri khas masing-masing, Sa. Termasuk kelasmu. Apakah kamu memerhatikan bagaimana jalannya debat kemarin?" Omong-omong kelasku adalah XI MIPA 2, dan kelasku kalah di semifinal.
"Iya, Bun."
"Apa yang bisa kamu ambil dan pelajari?"
"Banyak, Bun."
"Apa saja?"
"Yang pertama, ada ilmu yang didapat dari tema-tema debat yang diangkat. Terus, kedua, melihat bagaimana orang-orang memiliki skill public speaking yang berbeda-beda. Terus, ketiga, belajar toleransi, karena kan dalam debat kita harus menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan kita."
"Iya, benar, Sa. Apa lagi?"
"Masih banyak lainnya, Bun."
"Apa lagi, Sa, kalau banyak, ya kamu sebutkan satu per satu atuh!" Aku pun hanya tersenyum, karena memang belum mengerti ke mana arah pembicaraan Bunda.
"Oke, benar, dari sesi debat kemarin, hal-hal itulah yang bisa kamu maknai dan pelajari. Mulai dari bagaimana kemampuan mereka dalam public speaking, sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan psikologis.
"Bunda salut, kemarin ada banyak siswa yang berpotensi menjadi public speaker yang mumpuni. Ada yang berbicara lancar disertai data-data dan fakta. Ada juga yang jago dalam bicara namun minim argumen yang meyakinkan, serta tak lupa ada yang menggebu-gebu ingin mengalahkan orang lain sehingga berbagai macam cara dilakukan. Menurutmu ada jenis apa lagi?"
"Sesuai observasiku kemarin sih, ada juga yang banyak diam tapi sekalinya berbicara ngena banget. Terus ada yang banyak bicara sampai-sampai tidak memberi kesempatan partner-nya untuk berargumen. Bahkan banyak juga yang malah ngawur menurutku, Bun. Hehe."
"Ngawur-nya gimana, Sa?"
"Nah, ini yang aku bingungkan, Bun, apakah yang kemarin itu termasuk ngawur atau aku-nya aja yang gak kesampaian otaknya."
"Sip. Jadi inilah yang akan kita bahas kali ini. Kamu pernah mendengar istilah logical fallacy?"
"Pernah deh, kayaknya, di buku bertema psikologi gitu, Bun."
"Iya, Sa, memang berkaitan dengan matematika juga, kok,"
"Hm... Aku tahu. Itu tentang... Duh, apa sih, itu kesalahan logika. Cacat logika?! Betulkah, Bun?"
"Correct, Dear. Nah, kalau kamu menyaksikan dengan saksama kemarin itu, wah banyak sekali cacat logikanya, Sa.
"Memang, ya, topik ini cukup berat untuk usia anak SMA, tapi kamu harus belajar mulai dari sekarang, supaya kemampuanmu dalam berbicara lebih bagus, dan critical thinking-mu pun bagus juga."
"Wah, seru tuh bahas yang berat-berat, Bun. Hehe."
"Pertama-tama mari kita analisis dulu, ya, Sa. Tadi kan sudah kita kategorikan siswa dengan cirinya masing-masing. Kesalahan berpikir ini bisa kita ubah dan latih agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Sekarang kita identifikasikan, jenis-jenis cacat logika yang umum terjadi. Kamu sudah tahu apa saja?"
"Lupa-lupa ingat, Bun, soalnya Bunda juga kan tahu, aku tuh harus baca setidaknya dua kali untuk paham sebuah buku."
"Huh, ini mah bilang aja gak tahu, malah diplomatif. Haha." Aku dan Bunda pun malah tertawa.
"Oke, langsung saja, ya. Jadi setidaknya ada 11 jenis cacat logika yang biasa terjadi, kita pelajari lima dulu saja, ya,"
"Duh, semuanya aja, Bun, gapapa nambah waktu juga." Itu sih maunya aku Two Hours kami menjadi Fours Hours pun tak apa.
"Oke, jangan lupa nanti kamu baca lagi bukunya, terus lakukan teknik Feynmann, ingat, kan, teknik yang waktu awal SMA dulu Bunda ajarkan?"
"Ingat, Bun, tapi aku jarang melakukannya." Bunda menatapku dengan matanya yang sayu, tajam pula.
"Langsung, ya, jadi Bunda akan kasih kamu contoh, lalu nanti kamu simpulkan, atau Bunda akan menjelaskan lalu kamu beri contoh. Ready?"
"Ready, Bun. Duh kok aku jadi degdegan, ya?"
"Haha, relax, Sa."
"Contoh pertama. Misalnya, kamu kan kurus, terus kamu merekomendasikan salah satu makanan sehat yang bagus untuk menaikkan massa badan, ke temanmu bernama Linda, terus Linda ini malah membalasmu dengan ucapan, kurang lebih begini, 'Lah, kamu rekomendasi-in ini ke aku? Kamu aja badannya kurus'. Kayak gitu, menurutmu kesalahan berpikirnya di mana?"
"Aku ingat! Jadi Linda ini malah menyerang fisikku, padahal kan yang sedang dibicarakan adalah rekomendasi makanan sehat untuk menambah massa badan. Jadi, harusnya kalau Linda tidak setuju, dia merekomendasikan makanan lain atau menjabarkan hal-hal yang membuat ia tidak setuju terhadap makanan itu sebagai penambah massa badan. Begitu, kan, Bun?"
"100 untuk anakku. Itu namanya ad hominem, Sa, menyerang pribadi, alih-alih argumennya. Lanjut, ya. Yang kedua, ada namanya argumentum ad populum, kalau ini lebih ke suatu argumen yang dianggap benar hanya karena banyak orang yang meyakininya atau melakukannya, padahal belum tentu benar. Contohkan sama Bunda, Sa."
"Oh, ini, sih, kayak yang sering terjadi di jalanan, Bun, saat seorang pengendara menerobos lampu merah, pas ditilang, dia berkilah toh orang lain juga sama-sama melanggarnya."
"Ya, itu salah satu contohnya."
"Selanjutnya apa lagi, Bun?"
"Kamu buru-buru banget, Sa. Haha."
"Ya habisnya, kan, kita cuma punya wkatu dua jam, masih ada sembilan jenis lainnya, pokoknya aku pengin tahu sekarang dari Bunda, biar nanti aku belajar lagi."
"Sip. Yang ketiga ini, namanya overgeneralization, apakah itu? Ini banyak banget terjadi, Sa. Ketika seseorang mengambil kesimpulan dengan cara terlalu men-generalisasi sesuatu. Kamu bisa mencontohkan?"
"Oh ini juga banyak kejadian, Bun. Misal, ada PNS yang ketahuan korupsi lalu menganggap semua PNS sama saja, penjilat. Atau contoh lainnya, perempuan yang tersakiti sama dua orang mantannya lalu bilang semua laki-laki sama. Padahal kan, menurut data statistik aja di duni ini terdapat lebih dari tiga milyar laki-laki, masak semuanya sama, Ayahku juga? Kakekku pun? Hahaha."
"Duh, iya itu betul sekali."
"Kalau yang keempat apa, Bun?"
"Yang keempat ini, namanya Post Hoc Ergo Propter Hoc,"
"Susah banget nyebutinnya."
"Haha. Kalau ini lumayan susah mendefinisikannya, intinya, ketika kita salah mengambil keputusan dari sebuah sebab-akibat, misalnya, kamu pakai pulpen merek A saat mengerjakan ujian di hari Senin dan nilai ujianmu bagus, terus hari berikutnya kamu sengaja gunakan lagi pulpen merek A lagi itu karena percaya bahwa nilai bagusmu itu karena pulpen merek A yang kamu pakai."
"Wah, kalau itu seperti syirik, ya, Bun." Bundaku mengangguk.
"Lalu cacat logika selanjutnya biasanya sih sering dijadikan guyonan juga, Sa. Namanya slippery slope. Misalnya, kamu belajar English, maka kamu pintar berbahasa Inggris, kamu pintar English, maka kamu bisa mengerjakan TOEFL dengan baik. Kamu mengerjakan TOEFL, maka kamu kuliah di luar negeri. Kesimpulan dari slippery slope, yaitu kalau kamu belajar English maka kamu kuliah di luar negeri. Paham, kan, Sa? Biasanya digunakan untuk mengecoh lawan bicara."
"Itu semacam snowball effect gitu, bukan, Bun?"
"Yap!"
"Duh, semakin seru nih, aku mulai tercerahkan, Bun."
"Bagus! Artinya kamu belajar. Lanjut, ya. Ada yang namanya false dicotomy (black or white), sering sekali terjadi di lingkungan kita, Sa. Misalnya, kamu menganggap siswa yang masuk ekskul KIR atau Kelompok Ilmiah Remaja pasti pintar-pintar, maka kamu berpikir mereka yang tidak masuk KIR berarti tidak pintar, padahal ada banyak kemungkinan, kan?"
"Betul, Bun, padahal bisa jadi mereka yang nggak masuk KIR, karena memang tidak mau, atau memilih ekskul lain, dan alasan-alasan lainnya."
"Kamu belajar dengan baik, Sa." Bunda dan aku kini sambil memetik edible flower yang ditanam sejak dua tahun lalu oleh Ayah.
"Bun, lanjut lagi, Bun..."
"Nah, cacat logika berikutnya, adalah yang sering terjadi di kalangan siswa nih, Sa. Ketika ada guru yang ditegur karena membolehkan siswanya mencontek saat ujian, si siswanya malah membela gurunya dengan mengatakan, misalnya, 'padahal kan guru A baik banget, ngajarnya asyik, kok malah ditegur'. Padahal memang perbuatan gurunya itu salah."
"Iya, tuh, Bun, di kelasku pun ada yang begitu. Huft. Eh itu namanya apa, Bun?"
"Appeal to emotional."
"Oh, oke, oke, appeal to emotional."
"Selanjutnya ada appeal to authority, kalau ini biasanya ketika seseorang meyakini suatu pernyataan yang dikatakan oleh orang yang memiliki jabatan atau kekuasaan. Paham, Sa?"
"Hm... Oh, pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang yang memiliki jabatan, padahal belum tentu benar, tapi malah dengan cepat diyakini orang lain, Bun?"
"Begitulah, kurang lebih. Misalnya saja, kamu bilang kelasmu keren karena kepala sekolah berkata demikian, seolah-olah ucapan orang yang memiliki kedudukan tinggi secara otomatis pernyataannya jadi benar. Pa da hal, belum tentu." Edible flower yang kami petik ternyata sudah banyak, lalu kami pun berpindah ke wastafel untuk membersihkan bunga-bunganya.
"Bunda beri contoh, ya, misalnya kamu memilih jalan-jalan dengan temanmu, lalu Bunda mengatakan, 'jadi bagimu jalan-jalan lebih penting daripada belajar di rumah?', padahal kamu tidak mengatakan seperti itu, nah perkataan seperti ini masuk kategori memelintir omongan orang."
"Hm... Banyak kasusnya sih kalau ini, ya, Bun? Debat kemarin juga banyak yang begini."
"Ya, Sa, biasa diistilahkan sebagai strawman fallacy. Hati-hati, ya."
"Dan yang ke... Eh sekarang yang keberapa, Sa?"
"Duh, udah banyak, Bun."
"Ke sepuluh."
"Hehe... Iya, Bun." Aku malu, takut Bunda mengira aku tidak memerhatikan.
"Duh, Sa, ini kita sudah tiga jam, lho."
"Gapapa, Bun, kan sedang nyantai juga, ayo, Bun, dua lagi kok."
"Ya sudah, oke, Bunda lanjutkan." Bundaku sambil multitasking membuat pudding edible flower, aku membantu sedikit-sedikit saja.
"Red Herring atau ikan merah yang baunya menyengat, ini sebagai kiasan untuk menyebut orang yang suka mengalihkan perhatian dalam berargumen. Kita bahas apa, dia malah bahas apa. Misalnya, kamu bilang pada Bunda ingin memulai bisnis kecil-kecilan, terus Bunda malah bilang, 'mau buka bisnis? Kerjaannya aja main kamera terus'. Which means itu gak nyambung."
"Haha. Aku paham banget ini, Bun," Aku paham, karena aku sering mendengar orang-orang ngawur ketika 'menyerang' orang lain.
"Dan yang terakhir... Duh, capek juga, ya, bicara terus, berasa ngasih lecture di kelas, Sa. Punten atuh, botol minum punya Bunda di situ."
"Ini, Bun."
"Nah, yang terkahir ini kita sebut sebagai burden of proof atau beban pembuktian. Ini cukup unik, Sa, karena justru orang yang belum tentu bersalah dipaksa untuk membuktikan ketidakbersalahannya oleh orang yang menuduh. Logikanya, kalau Si A menganggap Si B salah, seharusnya Si A yang membeberkan bukti yang menyatakan Si B salah, kalau dalam cacat logika ini justru Si B yang didesak untuk membuktikan bahwa ia tidak salah."
"Oalaah... Kalau ini mah kemarin juga banyak siswa yang melakukannya, Bun."
"Iya, Sa, akhirnya 11 jenis kesalahan berpikir sudah Bunda diskusikan denganmu, agar kamu mengambil hikmah dari pengalaman kemarin. Kesalahan-kesalahan berpikir itu bukan hanya terjadi dalam forum debat saja, justru banyak bisa kita temukan di media sosial. Netizen yang berargumen panjang lebar menyerang dan menjatuhkan orang lain namun justru malah ngawur dan tidak terarah. Kamu harus belajar lagi, ya, Sa, supaya kamu tidak terjebak dengan kesalahan-kesalahan yang tadi kita bahas. Masih banyak jenis lainnya, tapi sebagai dasar, kamu pelajari dulu sedikit-sedikit, ya."
"Terima kasih, Bundaku, untuk Two Hours-nya, eh Three Hours-nya, sangat bermanfaat." Tak lupa kuucapkan terima kasih, sambil memuji rasa pudding edible flower yang nikmat buatan Bunda.
He who cannot put his thoughts on ice should not enter into heat of dispute.
~Friedrich Nietzsche

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful