Tangga Menuju Kota Yang Hilang #10
Kinari selalu menyukai perjalanan. Baginya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi cara menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari sebelumnya. Karena itulah, ketika teman-teman kuliahnya mengajak mengikuti ziarah ke sebuah kota bersejarah di pegunungan, ia langsung mengiyakan.
Pagi itu, sebuah bus berwarna putih membawa mereka meninggalkan kampus. Di dalam bus terdengar suara obrolan, tawa, dan musik yang diputar pelan dari ponsel para mahasiswa. Di samping Kinari duduk sahabatnya, Rara, yang sejak awal tidak berhenti mengambil foto.
"Kalau tempatnya sebagus yang ada di brosur, aku bakal upload semuanya," kata Rara sambil tertawa. Kinari hanya tersenyum sambil melihat ke luar jendela.
Semakin jauh mereka melaju, pemandangan mulai berubah. Bangunan-bangunan modern perlahan menghilang, berganti dengan masjid-masjid tua yang megah. Kubahnya berwarna hijau dan biru. Dindingnya dipenuhi ukiran geometris yang rumit.
Di beberapa tempat berdiri pesantren-pesantren tua dengan menara tinggi yang menjulang ke langit. Kinari terpana.
Entah mengapa, tempat itu mengingatkannya pada foto-foto Pakistan yang sering ia lihat di internet. Padahal ia tahu betul mereka masih berada di Indonesia. Namun ada sesuatu yang berbeda. Seolah-olah mereka sedang melewati batas antara dua dunia. Bus terus bergerak. Jalan mulai menanjak memasuki kawasan perbukitan. Di sisi kanan dan kiri terbentang hutan jati yang lebat.
Batang-batang pohon menjulang tinggi, menciptakan lorong hijau yang panjang dan sunyi. Tidak ada suara kendaraan lain. Hanya angin yang berdesir di antara dedaunan. Anehnya, kesunyian itu tidak menakutkan. Justru terasa menenangkan. Seperti pelukan alam yang lembut.
Saat bus berhenti di sebuah rest area, Kinari turun untuk meregangkan tubuh. Tempat itu sederhana. Ada warung kecil, bangku-bangku kayu, dan pemandangan perbukitan yang terbentang jauh hingga ke cakrawala.
Ia berdiri lama di tepi pagar. Menikmati udara yang dingin dan bersih. Saat itulah ia melihat sesuatu. Di kejauhan, di balik kabut tipis, tampak siluet sebuah gerbang batu besar.
Padahal menurut sopir, tujuan mereka masih satu jam lagi. Kinari mengerutkan kening. Ketika ia menunjukkannya kepada Rara, gerbang itu sudah tidak ada.
"Mungkin kamu capek," kata Rara.
Kinari mengangguk, meski hatinya merasa aneh.
Menjelang sore, mereka akhirnya tiba. Gerbang tempat ziarah itu jauh lebih indah daripada yang dibayangkan. Tangga batu membentang panjang ke atas bukit. Di kejauhan terlihat gunung-gunung yang berdiri megah mengelilingi kawasan tersebut. Kabut tipis bergerak perlahan di antara pepohonan.
Suasananya damai. Seolah waktu berjalan lebih lambat di sana. Rombongan mulai menaiki tangga. Namun semakin tinggi mereka berjalan, Kinari merasa ada yang tidak beres. Jumlah orang di sekitarnya berkurang. Awalnya ia masih mendengar suara teman-temannya. Lalu suara itu perlahan menghilang. Ketika ia menoleh ke belakang, ia terkejut.
Tangga itu kosong. Tidak ada Rara. Tidak ada mahasiswa lain. Tidak ada pembimbing. Tidak ada siapa pun. Hanya dirinya sendiri.
"Rara?" panggilnya. Tidak ada jawaban.
Angin berembus pelan. Jantung Kinari mulai berdetak lebih cepat. Ia berlari menuruni beberapa anak tangga. Tetapi yang ia temukan hanya kabut. Tangga itu seolah tidak memiliki ujung.
Panik mulai menguasainya. Namun di puncak tangga, sebuah suara tua memanggil.
"Kalau kau mencari mereka, naiklah."
Kinari mendongak. Di atas sana berdiri seorang kakek berjubah putih. Entah mengapa, wajahnya terasa sangat familiar. Meski takut, Kinari memutuskan naik.
Sesampainya di puncak, ia mendapati sebuah bangunan tua yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bangunan itu indah. Arsitekturnya memadukan gaya Nusantara dan Asia Selatan.
Dindingnya dipenuhi kaligrafi yang mulai pudar dimakan usia.
"Kakek, teman-teman saya di mana?" tanya Kinari.
Kakek itu tersenyum.
"Mereka tidak pernah sampai ke sini."
"Bukankah kami datang bersama?"
"Ya. Tetapi tempat ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu."
Kinari semakin bingung.
Kakek itu lalu menunjuk sebuah pintu kayu besar.
"Masuklah."
Di balik pintu itu terdapat ruangan luas yang dipenuhi cermin. Puluhan. Ratusan. Mungkin ribuan. Setiap cermin menampilkan potongan-potongan kehidupan yang berbeda.
Ada anak kecil yang sedang bermain hujan. Ada seorang remaja yang membaca buku di bawah pohon. Ada seorang wanita tua yang tersenyum sambil memegang tasbih.
Kinari memperhatikan semuanya. Lalu ia membeku. Di salah satu cermin, ia melihat dirinya sendiri.
Bukan dirinya saat ini. Melainkan dirinya yang jauh lebih tua. Rambutnya mulai memutih. Wajahnya penuh garis kehidupan. Namun matanya tampak tenang. Wanita tua itu tersenyum kepadanya.
"Lihat baik-baik," kata suara kakek tadi.
"Siapa dia?"
"Itu kamu."
Tubuh Kinari merinding.
"Itu tidak mungkin."
"Kita semua berjalan menuju seseorang yang akan kita temui di masa depan."
Wanita tua di dalam cermin perlahan mengangkat tangan. Lalu menunjuk ke arah sebuah batu nisan yang berdiri di belakangnya. Kinari mendekat. Namanya terukir jelas di sana.
KINARI.
Ia mundur dengan napas memburu.
"Ini mimpi..." gumamnya.
"Mungkin," jawab sang kakek.
"Tapi semua perjalanan memiliki tujuan."
Saat itu juga seluruh ruangan mulai bergetar.
Cermin-cermin pecah satu per satu. Suara gemuruh memenuhi udara. Kinari menutup mata.
Ketika ia membukanya kembali, ia sudah berada di dalam bus. Rara duduk di sampingnya. Teman-teman yang lain masih bercanda seperti biasa. Bus bahkan belum tiba di tempat tujuan.
"Kinari?" tanya Rara.
"Kamu tidur dari tadi."
Kinari mengusap wajahnya. Ternyata semuanya hanya mimpi. Ia tertawa kecil karena merasa terlalu terbawa suasana.
Namun saat melihat ke luar jendela, senyumnya perlahan hilang. Di antara pepohonan jati yang berderet di tepi jalan, berdiri seorang kakek berjubah putih.
Diam. Memperhatikannya.
Tepat sebelum bus berbelok, kakek itu mengangkat tangan dan tersenyum. Senyum yang sama persis dengan senyum wanita tua di dalam cermin.
Dan saat itulah Kinari menyadari sesuatu. Mungkin yang ia alami bukan mimpi tentang sebuah tempat ziarah. Melainkan kunjungan singkat ke masa depannya sendiri.
Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful