Takdir Pertemuan || Bunga Juang Revolusi #1
Tarian khas Sunda menjadi hiburan jamuan makan malam untuk tamu undangan pejabat Belanda dan bangsawan daerah. Di aula alun-alun tengah kota ini, berbaris bangunan arsitektur penuh ukiran bernilai seni tinggi. Makanan lezat berjejer, para tamu undangan mengenakan pakaian cantik saling beradu kemewahan. Gemerlap perhiasan nyonya-nyonya bangsawan mengalahkan indahnya gemerlap bintang malam. Semua hal itu dihasilkan dari keringat dan darah rakyat pribumi. Topik obrolan yang terdengar selalu tentang ekonomi dan politik. Itupun harus tentang sesuatu yang menguntungkan mereka. Mereka tidak mau tahu tentang penderitaan rakyat. Yang mereka lihat hanyalah silaunya sumber daya melimpah di bumi Pasundan ini.
Sekelompok gadis muda nan anggun menari dengan selendang merah marun melambai mengikuti iringan musik gamelan. Beginilah yang dilakukan perempuan muda Sunda untuk menghibur para pejabat bangsa asing. Senang tidak senang, mereka lakukan. Tak sedikit pria-pria Belanda ini terpesona dengan kecantikan para gadis penari dan berujung dengan perkenalan di bilik tidur.
Para istri dan perempuan pribumi tidak diperkenankan berbaur di meja makan jamuan. Mereka berkumpul di sebuah ruangan khusus yang terpisah oleh jendela dan partisi dinding. Namun, biasanya para istri ini akan menikmati waktu mereka dengan meminum teh dan mengobrol.
Seorang gadis muda berkebaya putih tulang dengan paduan selendang merah berambut panjang sepunggung nampak diam-diam mencuri pandang ke arah aula. Ia bosan dengan acara seperti ini yang hanya berisi obrolan para istri pejabat yang saling memamerkan kejayaan suami mereka. Dalam pikirannya, si gadis berkomentar tidak adakah topik penting lainnya untuk dibicarakan selain tentang perhiasan dan suami mereka.
Mata sayunya terus mencari keberadaan sahabat dekatnyanya yang menjadi salah satu penari di jamuan itu. Dengan alasan mencari sahabatnya, ia mundur perlahan memasuki ruangan di belakang. Di ruangan belakang yang menghadap taman, ia bisa melihat gemerlapan lampu aula yang penuh cahaya. Gadis yang bernama lengkap Santika Rahayu Handini ini duduk dengan nyaman di sebuah kursi jati cukup tua di sana. Tak lama kemudian sahabatnya yang ia tunggu-tunggu akhirnya menghampiri.
"Aku tak ingin seumur hidup terus menari seperti ini." Santika sudah terbiasa dengan keluhan sahabatnya yang sering ia katakan setiap selesai menari di acara jamuan.
"Ya, kita tak bisa memilih meskipun punya pilihan."
"Lagi? Sekarang buku apa lagi yang kamu baca sehingga menjawab keluhanku dengan kalimat itu?" Gantari menimpal.
"Maksudku, ya beginilah menjadi perempuan."
"Baiklah. Aku sudahi mengeluhnya. Di aula tadi kulihat ada dua orang pria yang cukup tampan. Aku baru melihatnya kali ini."
"Benarkah? Siapa mereka?" Dua remaja dewasa yang sudah mengenal cinta ini tentu cukup tertarik pada pria tampan.
"Entahlah. Kulihat ada peluang. Mungkin dengan cara mengenal mereka, aku bisa mengetahui lebih banyak tentang fashion negara Eropa. Itu bisa menguntungkanku." Gantari mengangkat selendangnya sembari memperagakan gaya bangsawan Eropa berjalan.
"Hm. Pria Belanda." Santika mendengus pelan.
Mereka berdua tampak asyik berbincang tentang banyak hal sembari menunggu orangtua mereka selesai menjamu undangan.
Satu jam berlalu, acara jamuan pun segera berakhir. Satu per satu tamu undangan pulang menuju rumah dinas mereka masing-masing. Santika dan Gantari berjalan menuju aula utama. Seorang pria Belanda menggeser satu kursi agar dia bisa mempersilakan orang lain berdiri, tetapi tanpa sengaja kursi itu menyenggol Santika yang secara bersamaan melewati tempat itu. Santika yang hilang keseimbangan pun akhirnya menggapai sesuatu untuk menahan badannya yang goyah. Malangnya, ia malah memegang sebuah guci besar di samping kirinya, dan terjadilah kejadian yang menarik banyak pasang mata. Suara guci pecah menghebohkan seisi aula.
Tak kuasa menahan rasa malu, Santika segera bangkit dan menundukkan kepala isyarat meminta maaf. Ia berjalan ke arah dapur berniat membereskan kekacauan. Gantari yang kebingungan ingin mengerjar Santika, tetapi dicegah ibunya, dan memaksanya untuk segera naik kereta kencana.
Orangtua Santika memerintahkan pelayan untuk membersihkan pecahan guci itu. Sang pria Belanda yang merasa bersalah, segera mencari keberadaan Santika.
"Nona!" Pria bernama Hans Heinrich Stein ini segera memanggilnya dari arah belakang.
Santika yang sibuk membersihkan tangannya yang terluka, tidak menghiraukan pria itu. Hans berniat meminta maaf tetapi Santika segera melenggang pergi. Hans sedikit mengejar. Santika semakin berlari kecil menghampiri orangtuanya dan mengajak untuk segera pulang. Sekilas Hans melihat rambut panjang Santika tertiup angin menampilkan sebagian wajah manisnya dengan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Beberapa detik lamanya mata Hans mengantarkan kepergian Santika bersama orangtuanya. Teman Hans, yang bernama Carl Huber segera menyadarkannya.
"Kau bisa jatuh cinta jika menatapnya terlalu lama."
Hans tersentak dan hanya senyum tipis.
Sesampai di rumah, Kartika segera membersihkan luka di tangan anaknya. Tangan kirinya harus dibalut kain tebal untuk menghindari infeksi. Sang ayah, Sobarna Darmanta, menasihati Santika untuk menjaga perilaku dan nama baik keluarga. Kejadian tadi dianggap sebagai kecelakaan tetapi jangan sampai terulang. Bahkan Sobarna menyarankan Santika untuk tidak perlu ikut jika nanti ada acara serupa. Sebagai seorang anak perempuan, dia hanya bisa diam dan pasrah.
Sebelum tidur, seperti biasa, Santika menulis dan mencatat semua kejadian yang dia alami hari ini. Dia merasa malu harus jatuh seperti itu di hadapan banyak orang. Dia juga tak lupa mencatat bahwa pria Belanda itu tidak memiliki hati hingga tak membantunya dan meminta maaf. Ia tuliskan kekesalan itu semua sambil sesekali meringis menahan sakit.
Tak seperti yang dipikirkan oleh Santika, Hans di kamar tidurnya juga tak henti-hentinya memikirkan kejadian tadi. Ia bahkan belum sempat melihat wajahnya. Belum sempat meminta maaf. Ia tak ingin dicap sebagai seorang Belanda yang arogan. Ia pun mencatat dalam buku hariannya bahwa ia sangat ingin meminta maaf pada gadis itu.
Keesokan harinya kira-kira pukul 10 pagi, Hans datang ke rumah Sobarna diantar oleh Carl Huber. Dua pria Belanda ini dipersilakan duduk menunggu di beranda rumah. Kartika memanggil suaminya sambil memberikan senampan suguhan untuk dua pria ini.
Sobarna cukup curiga dengan kedatangan orang Belanda, berkali-kali ia mengalami kejadian tak mengenakkan dengan datangnya orang Belanda ke rumahnya. Namun, kali ini berbeda, ternyata dua pria ini memiliki niat dan tujuan yang baik, buah dari penyesalan dengan apa yang terjadi tadi malam. Sobarna tidak terlalu mempermasalahkan.
"Jika boleh tahu, bagaimana keadaan Nona? Saya nampak kemarin ia terluka di tangan." Bahasa yang cukup susah payah ia katakan. Meskipun begitu, sudah cukup fasih bagi seorang bangsa asing berbahasa Sunda dan Indonesia.
"Anda tidak perlu khawatir. Anak saya baik-baik saja."
"Bolehkah saya bertemu dengannya?" Sobarna tampak tidak senang dengan permintaan itu. Ia merasa bahwa anak perempuan tidak boleh ditemui oleh sembarang laki-laki apalagi oleh seseorang dari bangsa penjajah.
"Saya pikir, Ananda tidak perlu melakukan itu. Saya sudah maafkan kejadian tadi malam. Tidak perlu dipikirkan."
Hans yang sudah membaca gelagat tidak nyaman dari Sobarna, pamit undur diri. Santika yang melihat dari balik jendela rumah, sedikit tersentuh hatinya dengan kebijaksanaan Hans. Ia merasa bahwa Hans tidak seperti orang-orang Belanda lainnya yang sombong dan angkuh.
Santika diam-diammemerhatikan dua pria Belanda ini dari taman samping kiri rumahnya. Ekspresicuriga tak bisa disembunyikan. Santika menatap dengan penuh selisik, tetapidibalas dengan senyuman tipis dari Hans. Santika tak membalas, ia sibuk kembalidengan buku di tangannya. Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga yang takseberapa. Kemudian Santika kembali menatap terlihat penasaran, mata merekasaling bertemu setidaknya selama lima detik, hingga Santika menutup wajahnyadengan buku. Mobil dinas pria Belanda itu pun pergi menjauh.

Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful