Suara Rumah Masa Kecil #6

 Matahari sore menggantung hangat ketika Kinari menuruni angkot di ujung gang kecil yang sudah lama tidak ia lewati. Gang itu masih sama seperti belasan tahun lalu, jalan sempit dengan pohon mangga yang dahannya menjulur ke atas pagar rumah-rumah warga. Di ujung gang berdiri sebuah rumah besar yang menjadi tujuan kedatangannya hari itu.

Putar musiknya untuk mengiringi supaya semakin terasa nostalgianya. Tapi, tidak pun tak mengapa. Tetap nikmati sesuai dengan selera. 

Rumah itu tidak megah. Dindingnya sedikit kusam dimakan usia, jendelanya masih menggunakan kayu tua berwarna cokelat tua, dan lantainya bermotif klasik yang mengingatkan Kinari pada rumah neneknya saat kecil. Namun rumah itu terasa hidup.

Suara orang bercakap-cakap bercampur tawa terdengar hingga ke luar pagar. Hari itu keluarga besar Pak Sumarna mengadakan syukuran sederhana setelah anak pertamanya diterima bekerja di kota. Hampir seluruh warga sekitar datang.

 Hampir seluruh warga sekitar datang

Sumber: AI Generate ChatGPT

Kinari melangkah masuk sambil tersenyum kecil. Aroma masakan memenuhi udara, bau opor ayam, gorengan hangat, dan teh melati yang baru diseduh. Di ruang tamu, beberapa ibu duduk sambil berbincang. Di ruang tengah, anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Bahkan teras belakang dipenuhi kursi plastik biru tempat para bapak mengobrol.

Rumah itu terasa penuh, tapi anehnya tidak sesak. Justru hangat.

"Kinari? Ya Allah, kamu datang juga!" Seorang wanita setengah baya menghampirinya sambil tersenyum lebar.

"Tante Mira..." Kinari membalas pelukan itu sambil tertawa kecil. Sudah lama sekali ia tidak datang ke daerah itu.

Sejak ibunya meninggal dan ayahnya pindah kota, perlahan ia menjauh dari lingkungan masa kecilnya. Kesibukan membuatnya lupa bahwa dulu ia pernah tumbuh di tempat yang begitu sederhana namun penuh kebahagiaan. Ia berjalan menyusuri rumah sambil memperhatikan banyak benda unik di sudut-sudut ruangan.

Ada radio tua yang masih tersimpan rapi di atas lemari kayu. Ada kalender jadul bergambar pemandangan sawah. Ada kipas angin tua berbunyi berdecit setiap berputar. Dan di dinding ruang makan tergantung foto-foto lama yang warnanya mulai pudar. Kinari tersenyum sendiri. Seolah waktu berhenti di rumah itu.

Menjelang malam, suasana semakin ramai. Seseorang mengusulkan permainan sederhana untuk memeriahkan acara. Kursi-kursi digeser, anak-anak dan orang dewasa berkumpul membentuk lingkaran.

Tidak ada hadiah besar. Tidak ada aturan rumit. Hanya permainan kecil yang membuat semua orang tertawa. Ada yang salah menjawab pertanyaan lalu dihukum menyanyi. Ada yang terlalu semangat sampai hampir jatuh. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kinari tertawa tanpa memikirkan apa pun. Tawa yang benar-benar lepas. Di tengah keramaian itu, seseorang memanggil namanya.

"Kinari?"

Ia menoleh.

Seorang laki-laki berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya lebih dewasa sekarang, namun matanya masih sama.

"Fikri...?"

Teman masa kecilnya. Mereka dulu sering bermain layangan bersama di lapangan dekat rumah. Lapangan kecil yang sekarang masih ada di belakang gang.

"Kupikir kamu nggak bakal datang lagi ke sini," kata Fikri sambil tersenyum.

Kinari tertawa pelan. "Aku juga pikir begitu."

Mereka duduk di teras samping rumah sambil melihat anak-anak bermain di lapangan. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Angin malam terasa dingin dan nyaman.

"Tempat ini nggak banyak berubah," ujar Kinari.

"Yang berubah cuma kita," jawab Fikri.

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam. Kinari terdiam. Ia menyadari sesuatu. Selama ini ia terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bagaimana rasanya menikmati hidup. Ia lupa bagaimana rasanya duduk santai tanpa terburu waktu. Lupa bagaimana rasanya tertawa bersama orang-orang tanpa perlu memikirkan pekerjaan, target, dan dunia yang terus bergerak cepat.

Malam semakin larut. Satu per satu tamu mulai pulang. Namun perasaan hangat di hati Kinari justru semakin terasa. Keesokan paginya, sebelum kembali ke kota, Kinari meminjam motor milik sepupunya. Ia ingin berkeliling sebentar.

Jalanan desa itu masih sempit, hanya cukup untuk satu mobil lewat perlahan. Di kanan kiri jalan berdiri rumah-rumah sederhana yang dipisahkan kebun dan pepohonan rindang. Udara pagi terasa sejuk. Langit tampak biru bersih. Dari kejauhan terlihat deretan gunung dan bukit hijau yang berdiri megah seperti lukisan.

Kinari memperlambat motornya. Ia melewati kebun bunga yang bermekaran di depan rumah warga. Bunga kertas. Mawar. Kenikir. Dan bunga-bunga kecil liar yang tumbuh di tepi jalan. Semua tampak hidup. Semua tampak damai. Di sebuah tikungan kecil, ia kembali bertemu beberapa teman masa kecilnya. Mereka sedang duduk di warung sambil minum kopi. Awalnya canggung.

Namun beberapa menit kemudian mereka tertawa seperti dulu lagi. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tentang siapa yang sudah menikah. Tentang siapa yang merantau. Tentang siapa yang tetap tinggal di desa. Dan di tengah percakapan sederhana itu, Kinari menyadari bahwa waktu memang berjalan sangat cepat. Tetapi kenangan baik tidak pernah benar-benar pergi.

Menjelang siang, ia berhenti di dekat lapangan kecil tempat dulu mereka bermain. Lapangan itu tidak berubah banyak. Rumputnya masih tumbuh liar di beberapa sisi. Tiang gawangnya masih miring sedikit. Dan pohon besar di pinggir lapangan masih berdiri kokoh.

Kinari mematikan mesin motor. Ia duduk di atas bangku kayu sambil memandang sekitar. Angin bertiup pelan membawa aroma tanah dan dedaunan. Untuk sesaat, ia merasa seperti kembali menjadi anak kecil.

Bebas.

Ringan.

Tenang.

Ia menatap langit lama sekali. Lalu tersenyum. Mungkin hidup memang tidak harus selalu tentang pergi jauh. Kadang, seseorang hanya perlu pulang sejenak untuk mengingat siapa dirinya. Dan pagi itu, di antara gunung-gunung hijau, rumah-rumah sederhana, serta bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan, Kinari menemukan sesuatu yang sudah lama hilang darinya.

Perasaan nyaman. Perasaan bahwa ia masih memiliki tempat untuk kembali.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Main Quora: Seru!

Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

PAD MAN: Suami yang Lebih Dari Sekadar Mencintai