Rumah Biru di Ujung Gang #9
Pagi itu, Desa Cempaka tampak berbeda. Di sepanjang jalan raya yang membelah desa, truk-truk besar terparkir rapi. Kamera, lampu sorot, dan puluhan kru sibuk mondar-mandir. Di kiri jalan berdiri rumah-rumah dengan bentuk yang beragam; ada rumah panggung tua yang masih kokoh, rumah sederhana berdinding bata, hingga rumah besar bercat cerah yang tampak mencolok di antara hamparan sawah dan kolam ikan.
Pohon-pohon tua menjulang di sepanjang jalan, menaungi desa yang biasanya tenang. Kinari berdiri di antara kerumunan warga dengan mata berbinar. Hari itu, aktor favoritnya, Shah Rukh Khan, sedang syuting di desanya.
Awalnya ia hanya ingin menonton dari jauh. Namun rasa penasaran membuatnya terus mendekat. Hingga tanpa sadar, ketika kamera mulai merekam sebuah adegan kejar-kejaran, Kinari melangkah masuk ke dalam frame.
"Hei!" terdengar seseorang berteriak. Tapi semuanya sudah terlambat. Para pemain mulai berlari. Dan anehnya, Kinari ikut berlari.
Ia berlari melewati sawah yang berkilauan diterpa matahari, menyeberangi jalan raya, lalu masuk ke gang-gang sempit yang diapit rumah-rumah warga. Nafasnya memburu. Jantungnya berdetak keras.
Awalnya ia mengira itu hanya bagian dari syuting. Namun semakin jauh ia berlari, semakin kuat perasaan bahwa ada seseorang yang benar-benar mengejarnya.
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tetapi suara langkah kaki terus terdengar di belakangnya.
Tok... tok... tok...
Kinari mempercepat langkah. Gang demi gang ia lewati. Rumah-rumah berdiri rapat namun tetap bersih dan asri. Jemuran bergoyang tertiup angin. Pot-pot bunga berjajar di depan teras.
Lalu ia tiba di ujung sebuah gang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sana berdiri sebuah rumah besar bercat biru dan putih. Rumah itu dikelilingi pohon-pohon rindang dan kebun yang hijau. Suasananya teduh, tetapi entah mengapa membuat bulu kuduk Kinari meremang.
Tanpa berpikir panjang, ia masuk. Pintu rumah terbuka begitu saja. Di dalamnya terdapat dua ruang tamu yang luas. Kursi-kursi tua berwarna merah dan cokelat tersusun rapi. Lemari kayu penuh barang antik berdiri di sudut ruangan. Di bagian tengah rumah terdapat ruang keluarga yang menghubungkan empat kamar. Dua kamar berjajar di sisi kiri. Dua kamar lainnya berhadapan di sisi kanan. Rumah itu terasa hidup, seolah baru saja ditinggalkan oleh penghuninya.
Namun tidak ada seorang pun di sana.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah kaki itu terdengar lagi. Kini dari dalam rumah. Tubuh Kinari menegang.
"Ada orang?" panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
Suara langkah itu semakin dekat.
Tok...
Tok...
Tok...
Kinari segera membuka salah satu pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Ia bersembunyi di balik lemari tua yang berdebu.
Napasnya ditahan. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar keluar. Langkah kaki berhenti tepat di depan pintu.
Sunyi.
Lalu perlahan... Gagang pintu bergerak.
Krek...
Pintu terbuka sedikit. Kinari memejamkan mata. Ia yakin seseorang telah menemukannya. Namun ketika memberanikan diri mengintip, ia tidak melihat siapa pun. Yang ada hanya sebuah cermin tua berdiri di tengah kamar.
Cermin itu tidak pernah ada saat ia masuk tadi. Kinari mendekat dengan hati-hati. Di permukaan cermin, bayangannya terlihat jelas. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Bayangan itu tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu justru tersenyum.
Kinari mundur selangkah. Bayangan di cermin tetap diam. Lalu perlahan mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pintu kamar. Saat itulah suara langkah kaki terdengar lagi.
Tok...
Tok...
Tok...
Kini bukan dari luar. Melainkan dari dalam cermin. Ketakutan membuat Kinari berlari keluar kamar. Ia melewati ruang keluarga, ruang tamu pertama, ruang tamu kedua, lalu menuju pintu depan. Namun pintu rumah telah menghilang. Yang ada hanya dinding biru panjang tanpa ujung.
Kinari berputar panik. Semua ruangan berubah menjadi lorong-lorong yang tak pernah berakhir. Suara langkah kaki semakin dekat.
Tok...
Tok...
Tok...
Ia menoleh. Dan akhirnya melihat sosok yang selama ini mengejarnya. Sosok itu adalah dirinya sendiri. Persis seperti dirinya. Hanya saja wajahnya lebih pucat dan matanya tampak sedih.
"Aku sudah mencarimu sangat lama," kata sosok itu.
Kinari terpaku.
"Siapa kamu?"
Sosok itu tersenyum tipis.
"Aku adalah Kinari yang tertinggal di rumah ini."
Seketika seluruh rumah berguncang. Potongan-potongan kenangan muncul di sekelilingnya. Rumah biru itu. Kursi merah. Empat kamar. Pohon-pohon di halaman. Semuanya terasa sangat familiar. Terlalu familiar. Lalu sebuah ingatan yang selama ini tersembunyi muncul. Rumah itu bukan rumah asing.
Rumah itu adalah rumah masa kecilnya yang pernah berdiri di desa tersebut bertahun-tahun lalu sebelum akhirnya dibongkar dan digantikan bangunan lain.
Kinari terdiam.
"Aku adalah semua kenangan yang kau tinggalkan," lanjut sosok itu. "Kau terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa pulang."
Tiba-tiba suara sutradara terdengar dari kejauhan.
"CUT!"
Segalanya berubah menjadi gelap. Ketika Kinari membuka mata, ia kembali berdiri di pinggir jalan desa. Kru film sedang membereskan peralatan. Tidak ada rumah biru. Tidak ada lorong. Tidak ada sosok misterius. Seolah semuanya tidak pernah terjadi.
Namun saat hendak pulang, ia menemukan sesuatu di sakunya. Sebuah kunci tua berwarna biru. Kunci yang sangat ia kenal. Kunci rumah masa kecilnya.
Rumah yang, menurut kenyataannya, sudah lama tidak ada lagi.
Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful