Pernikahan Siapakah Ini? #7

 Malam itu, Kinari merasa tidurnya terlalu lelap. Sampai-sampai ketika ia membuka mata, ia tidak langsung sadar bahwa dirinya sedang bermimpi. Ia berdiri di depan gerbang sebuah kompleks perumahan elit yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Jalanannya lebar dan bersih, dihiasi lampu-lampu taman berwarna kuning hangat. Deretan rumah besar berdiri anggun di kanan kiri jalan. Semuanya tampak mahal, tenang, dan hampir terlalu sempurna.

Rumah-rumah itu didominasi warna putih dengan balkon hitam berlapis ukiran emas. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh seperti istana kecil. Pohon-pohon kamboja tumbuh rapi di halaman, sementara suara air mancur terdengar samar dari kejauhan.


Kinari berjalan perlahan, bingung sekaligus kagum.

"Aneh... aku pernah lihat tempat ini enggak ya?" gumamnya.

Di salah satu rumah, ia melihat seorang perempuan melambaikan tangan.

"Kinari!"

Ternyata itu Salsa, teman lamanya yang sudah menikah. Salsa berdiri bersama suaminya di teras rumah besar bercat putih gading.

"Kamu akhirnya datang juga," kata Salsa sambil tersenyum.

"Datang ke mana?" Salsa hanya tertawa kecil, seperti pertanyaan itu lucu baginya.

"Cepat masuk. Semuanya sudah menunggu."

Kinari merasa aneh, tetapi ia tetap masuk. Begitu melangkah melewati pintu besar berukir bunga-bunga, hawa dingin langsung menyambutnya. Interior rumah itu begitu megah. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal raksasa menggantung di tengah ruangan. Lantai marmer memantulkan cahaya keemasan dari chandelier.

Di dinding-dinding rumah terpajang lukisan klasik dengan bingkai emas tua. Ada guci-guci besar di sudut ruangan, dan gorden panjang menjuntai dari jendela-jendela tinggi.

Rumah itu terasa seperti perpaduan masa lalu dan masa depan. Mewah, tetapi sunyi.

Di dalam rumah sudah banyak orang berkumpul. Anehnya, hampir semuanya dikenal Kinari. Ada teman sekolah, sepupu jauh, tetangga lama, bahkan sahabat masa kecilnya, Damar.

"Kinari!" seru Damar sambil menghampiri.

Kinari tersenyum lebar. "Ya ampun, aku enggak ketemu kamu bertahun-tahun." Damar masih sama seperti dulu. Senyumnya hangat dan menenangkan.

"Kamu telat," katanya.

"Semua orang bilang begitu dari tadi. Sebenarnya ada acara apa sih?"

Damar memandangnya sebentar, lalu menjawab pelan, "Pernikahan."

"Pernikahan siapa?"

Namun Damar tidak menjawab. Ia malah berjalan pergi ketika seseorang memanggil namanya dari lantai dua. Kinari mulai merasa ada yang tidak beres.

Ia mengikuti keramaian menuju dapur besar di belakang rumah. Di sana banyak orang sibuk memasak. Aroma rempah dan makanan hangat memenuhi ruangan. Beberapa perempuan mengupas bawang, yang lain mengaduk panci besar. Kinari ikut membantu memotong sayuran.

Suasana terlihat normal, tetapi entah kenapa semua orang tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka tersenyum, tertawa, tetapi mata mereka kosong.

Dan ada satu hal lagi yang membuat Kinari tidak nyaman. Seorang pria. Ia berdiri di sudut dapur sejak tadi. Wajahnya familiar, seperti seseorang yang pernah dikenal Kinari, tetapi ia tidak bisa mengingat siapa. Pria itu hanya diam sambil memperhatikan semua orang. Tatapannya membuat bulu kuduk Kinari meremang.

"Siapa dia?" bisik Kinari kepada seorang perempuan di sebelahnya.

Perempuan itu tampak bingung. "Loh, kamu kenal dia kan? Bercanda, ya?"

Kinari menoleh lagi ke arah pria itu. Namun sekarang pria itu sudah tidak ada.

Malam semakin larut. Musik mulai terdengar dari aula utama rumah. Orang-orang berjalan menuju ruangan besar dengan dekorasi bunga putih memenuhi setiap sudut. Lilin-lilin tinggi menyala di sepanjang lorong.

Kinari mengikuti keramaian. Lalu langkahnya terhenti. Di ujung aula, ia melihat sebuah panggung pernikahan besar. Dan di sana... ada foto dirinya sendiri. Kinari membeku. Foto itu memperlihatkan dirinya memakai gaun pengantin putih.

"Apa...?"

Jantungnya berdetak cepat. Beberapa orang mulai mendekatinya sambil tersenyum.

"Kinari, cepat bersiap."

"Pengantinnya jangan melamun."

"Kamu cantik sekali malam ini."

Tubuh Kinari terasa dingin.

"Aku... pengantinnya?"

Tidak ada yang menjawab dengan jelas.

Seseorang menggiringnya menuju sebuah kamar di lantai dua. Di sana sudah tergantung gaun pengantin putih yang sangat indah. Bahannya berkilau lembut dengan renda-renda halus di bagian lengan.

Di depan cermin besar, Kinari melihat dirinya sendiri sudah memakai riasan pengantin.

Padahal ia belum menyentuh apa pun.

Ia mundur pelan.

"Ini bukan pernikahanku..." bisiknya. Namun suara itu terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri. Dari balik cermin, samar-samar ia melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya.

Pria yang tadi. Kinari langsung menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Napasnya mulai tidak teratur.

Ia berlari keluar kamar, melewati lorong panjang dengan lampu redup. Rumah megah itu kini terasa berubah. Dindingnya tampak lebih gelap. Lukisan-lukisan di dinding terlihat seperti memperhatikannya.

Suara musik dari bawah terdengar melambat seperti kaset rusak. Kinari menuruni tangga besar dengan panik.

"Ini mimpi... ini pasti mimpi..."

Namun ketika sampai di aula utama, semua orang tiba-tiba berhenti bergerak.

Diam. Mereka menatap Kinari bersamaan. Tidak ada suara. Tidak ada musik. Hanya tatapan kosong puluhan orang yang berdiri mematung. Di ujung panggung, seorang pria berdiri membelakanginya memakai jas hitam pengantin.

"Itu calon suamimu," terdengar suara seseorang berbisik.

Pria itu perlahan menoleh. Dan Kinari tersentak. Wajahnya tidak jelas. Kabur seperti bayangan yang rusak.

Tetapi matanya... matanya sama persis dengan pria misterius yang sejak tadi mengawasinya.

Kinari mundur pelan.

"Aku enggak kenal dia..."

Tiba-tiba lampu-lampu rumah berkedip.

Brak!

Pintu utama tertutup sendiri.

Orang-orang mulai tersenyum perlahan. Senyum mereka terlalu lebar. Terlalu aneh.

"Pernikahannya harus tetap berlangsung," kata mereka hampir bersamaan.

Kinari berlari menuju pintu belakang rumah. Lorong-lorong rumah terasa berubah seperti labirin. Semakin ia mencari jalan keluar, semakin rumah itu terasa luas dan tidak berujung.

Sampai akhirnya ia tiba di balkon lantai dua.

Angin malam berembus dingin. Dari sana ia melihat seluruh kompleks perumahan putih itu berdiri sunyi tanpa satu pun lampu menyala.

Kosong. Seperti kota mati. Lalu sebuah suara terdengar tepat di belakang telinganya.

"Kamu akhirnya sadar juga."

Kinari membalikkan badan cepat. Pria misterius itu berdiri sangat dekat di belakangnya.

"Kamu bukan datang ke pernikahan seseorang," katanya pelan sambil tersenyum tipis.

"Lalu?"

Pria itu menatap lurus ke matanya.

"Kamu sedang terjebak di dalam hidup yang bukan milikmu."

Dan seketika itu juga, seluruh rumah berguncang hebat.

Kinari terjatuh. Lampu-lampu pecah. Suara orang-orang tertawa memenuhi udara.

Lalu semuanya gelap.

Kinari terbangun dengan napas memburu di kamarnya sendiri.

Sunyi.

Tidak ada rumah megah. Tidak ada pesta pernikahan.

Tetapi saat ia mencoba menenangkan diri, matanya menangkap sesuatu di meja samping tempat tidur.

Setangkai bunga putih. Masih segar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Main Quora: Seru!

Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

PAD MAN: Suami yang Lebih Dari Sekadar Mencintai