Perjalanan Pulang #8
Kinari tidak pernah menyangka bahwa sebuah perjalanan bisa terasa begitu nyata, padahal belum tentu pernah terjadi. Malam itu, perempuan berusia dua puluh lima tahun itu tertidur dengan kepala penuh pertanyaan. Tentang masa depan. Tentang pekerjaannya. Tentang mimpi-mimpi yang belum sempat ia kejar karena terlalu sibuk menjalani hidup yang dianggap "aman".
Lalu ia terbangun di sebuah jalan desa. Atau setidaknya, ia mengira dirinya terbangun. Angin sore menyentuh wajahnya. Di depannya, seorang laki-laki mengendarai motor tua berwarna hitam.
"Pegangan yang erat," kata laki-laki itu. Kinari mengerutkan dahi.
"Aku kenal kamu?" Laki-laki itu tertawa kecil.
"Belum."
Motor melaju perlahan melewati deretan rumah panggung kayu. Jalan tanah yang lengang membentang di antara kebun-kebun hijau. Tidak ada suara klakson. Tidak ada gedung bertingkat. Hanya suara ayam, anak-anak bermain, dan desir angin yang menggesek dedaunan.
Kinari mengenali tempat itu. Desanya. Atau lebih tepatnya, desa yang hidup di dalam ingatannya.
"Ini... masa kecilku." Laki-laki itu tidak menjawab.
Semakin jauh mereka melaju, semakin banyak kenangan yang bermunculan. Pohon mangga tempat ia pernah jatuh. Jembatan bambu yang dulu sering ia lewati. Warung kecil tempat ia membeli es lilin sepulang sekolah. Semuanya masih ada. Padahal di dunia nyata, sebagian besar sudah hilang.
"Aku ingin tinggal di sini lebih lama," gumam Kinari.
"Kenapa?"
"Karena di sini semuanya terasa sederhana." Laki-laki itu hanya tersenyum.
Motor berhenti di atas sebuah bukit. Di sana terdapat sesuatu yang aneh. Sebuah seluncuran raksasa membentang dari puncak bukit hingga lembah di bawahnya.
"Naiklah," kata laki-laki itu.
"Aku bisa jatuh."
"Justru itu." Kinari menatapnya bingung.
Namun entah mengapa ia duduk di atas seluncuran itu. Sesaat kemudian tubuhnya meluncur cepat. Angin menerpa wajahnya. Ia tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa tanpa memikirkan pekerjaan, target hidup, atau ekspektasi siapa pun. Bukit-bukit hijau terbentang sejauh mata memandang. Rumah-rumah panggung tampak seperti lukisan. Langit begitu biru. Dan untuk beberapa saat, Kinari merasa bebas. Sangat bebas.
Namun kebebasan itu tidak berlangsung lama. Ketika ia sampai di bawah, laki-laki tadi sudah menghilang. Sebagai gantinya, ia menemukan sekelompok teman yang memanggil namanya.
"Kinari! Cepat! Rombongan mau berangkat!"
"Berangkat ke mana?"
"Study tour!"
Sebelum sempat bertanya, ia sudah berada di dalam sebuah bus besar. Perjalanan mereka terasa ajaib. Hari itu mereka berada di India. Hari berikutnya di Mesir. Mereka berjalan di pasar-pasar penuh warna. Membeli gelang-gelang perak. Lampu-lampu antik. Kain bersulam emas. Patung-patung kecil. Parfum dengan aroma rempah yang hangat.
Kinari membeli begitu banyak barang hingga kedua tangannya penuh. Teman-temannya tertawa.
"Kamu mau buka toko?"
"Aku takut menyesal kalau tidak beli."
"Kenapa harus takut?"
Kinari terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin karena selama ini ia selalu takut kehilangan kesempatan.
Takut salah memilih. Takut tertinggal. Takut hidupnya biasa-biasa saja.
Perjalanan berlanjut.
Semakin jauh. Semakin megah. Namun anehnya, semakin lama Kinari justru merasa kosong. Pasar-pasar indah itu mulai tampak sama. Gedung-gedung megah mulai kehilangan pesonanya. Barang-barang yang dibelinya terasa semakin berat.
Lalu suatu malam, ketika rombongan beristirahat di sebuah penginapan tua di tengah gurun, ia melihat laki-laki pengendara motor itu lagi. Berdiri sendirian di ujung koridor.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Kinari.
Laki-laki itu menatapnya lama.
"Kamu sungguh belum mengenaliku?" Kinari menggeleng.
Laki-laki itu tersenyum sedih.
"Kalau begitu, sudah waktunya kamu pulang."
Tiba-tiba semua lampu padam. Suara teman-temannya menghilang. Pasar-pasar menghilang. India menghilang. Mesir menghilang. Bahkan langit pun ikut menghilang. Yang tersisa hanya kegelapan. Dan sebuah cermin besar. Kinari berdiri di depannya.
Lalu napasnya tercekat.
Karena laki-laki itu muncul di dalam cermin. Bukan di sampingnya. Bukan di belakangnya. Melainkan sebagai bayangannya sendiri. Wajah mereka sama. Tatapan mereka sama. Senyum mereka sama.
"Siapa... kamu?"
Laki-laki itu menjawab pelan.
"Aku adalah dirimu yang dulu."
Kinari membeku.
"Aku adalah anak kecil yang pernah bermimpi menjelajahi dunia."
"Aku adalah keberanian yang kau tinggalkan ketika mulai terlalu banyak takut."
"Aku adalah bagian dirimu yang terus menunggu untuk diajak hidup kembali."
Air mata mengalir di pipi Kinari.
Tiba-tiba ia mengerti. Perjalanan itu bukan tentang India. Bukan tentang Mesir. Bukan tentang barang-barang antik. Bukan tentang tempat-tempat indah. Semua itu hanyalah simbol. Selama ini ia sibuk mencari kebahagiaan di tempat-tempat jauh. Padahal yang sebenarnya hilang adalah dirinya sendiri.
Anak kecil yang dulu berani bermimpi.
Anak kecil yang tidak takut mencoba.
Anak kecil yang percaya bahwa hidup adalah petualangan.
Perlahan cermin itu retak. Dunia di sekelilingnya runtuh. Dan Kinari terbangun.
Pagi telah tiba. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamarnya. Di samping tempat tidur terdapat jurnal yang semalam ia tulis. Ia membukanya. Di halaman terakhir terdapat satu kalimat yang tidak ia ingat pernah menuliskannya.
"Ke mana pun kamu pergi, jangan lupa menjemput dirimu yang tertinggal."
Kinari tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa harus berlari mengejar hidup. Karena ternyata, perjalanan terjauh bukanlah menuju negeri yang asing. Melainkan perjalanan pulang menuju diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful