KKL II: Yogyakarta-Solo

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Hallo, sahabat semuanya, apa kabar hari ini?

Ok, kalau dulu saya pernah posting pengalaman KKL I, maka sekarang saya ingin share pengalaman KKL II Historia'17 yang dilaksanakan pada 12-15 Oktober 2019 dengan destinasi Yogyakarta dan Solo. 
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 sampai dengan hari Selasa, 15 Otober 2019. Pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 pukul 04.30 kami berkumpul di sekitar lapangan utama Universitas Siliwangi untuk proses absensi dan persiapan keberangkatan. Ada empat bus yang akan menemani kami selama perjalanan, namun terdapat satu bus yang datangnya terlambat, sehingga kami harus menunggu hampir satu jam lebih. Tetapi tidak mengapa, keterlambatan ini pasti ada hikmahnya. Kemudian, panitia mempersilakan kami untuk menyimpan barang bawaan kami di bagasi dan duduk di jok sesuai dengan daftar duduk yang sudah tertera. Saat itu, saya duduk berdua dengan teman saya, Ayu.

Pukul 5.40 kami berangkat dari Unsil beriringan mulai dari bus 1 sampai 4, tak lupa panitia memimpin doa agar perjalanan kita dilindungi Allah swt. serta sehat dan selamat sampai tujuan. Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, saya lihat teman-teman yang lain ada yang tertidur lelap, mungkin menyambung tidur tadi malam yang sempat terpotong karena prepare, ada pula yang asyik mendengarkan musik dan memainkan handphone, dan masih banyak yang lainnya, saya pribadi menikmati obrolan bersama teman saya mengenai banyak hal. Sesekali saya merasakan pusing ketika melewati jalur perjalanan yang berkelok-kelok, tapi alhamdulillah semuanya lancar sampai tiba saatnya di tempat istirahat pertama, yaitu Rumah Makan Sambal Lalab. Di jadwal KKL, istirahat pertama itu jam 12.00 bertepatan dengan istirahat untuk sholat, namun pada nyatanya pukul 9.15-an, kami sudah tiba di rumah makan itu. Tidak memerlukan waktu lama, kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya Historia 17 tidak lengkap 78 orang semuanya ikut, karena ada salah satu teman kami bernama Fikri Zulfikar yang tidak bisa ikut dalam kegiatan ini, dikarenakan teman kami ini sedang sakit, mari kita doakan semoga Fikri lekas sembuh seperti sedia kala. Aamiin…

Perjalanan yang panjang ini rasanya tidak membosankan, karena ada beberapa teman yang membuat suasana dalam bus menjadi lebih menyenangkan, seperti menyanyi bersama, kemudian teman-teman yang lainnya saling melontaran jokes yang kadang lucu dan ada pula yang tidak. Finally, kami semua sampai di destinasi pertama, yaitu Candi Borobudur, sebuah mahakarya yang telah masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia ini merupakan peninggalan Dinasti Syailendra atas perintah Raja Samaratungga pada abad 8 Masehi. Kami tiba sekitar pukul 14.40-an. Cukup ramai, banyak bus-bus pariwisata dan mobil pribadi yang terparkir rapi di tempat yang sudah disediakan. Kami turun berkumpul bersama panitia untuk diberikan pengarahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan di sana. Mahasiswa berkumpul bersama masing-masing kelompok. Saya adalah anggota kelompok 4, bersama 15 orang lainnya, di antaranya Taofik, Rifa, Anis, Pipin, Isvihani, Sopi, Dina, Tita, Nunie, Apip, Aris, Fikri, Nisa, Indri, dan Nurfitria.
Terakhir saya ke sana adalah sekitar empat tahun yang lalu, dan sekarang saya lihat ada beberapa bagian candi yang diperbaiki dan ada pula beberapa yang bukan merupakan bentuk aslinya, melainkan hasil rekaan untuk lebih memperindah relief candinya. Sayangnya, kami di sana hanya diberi waktu kurang dari tiga jam, jadi saya pribadi tidak bisa mengeksplorasi semua tempat yang ada di sekitar candi, seperti museum dan sebagainya.

Jam di tangan saya telah menunjukkan angka lima, kami melanjutkan perjalanan untuk makan malam di Rumah Makan Baledono. Setelah perut kami semua terisi, perjalanan dilanjutkan menuju tempat kami menginap, Hotel MM UGM. Dua jam waktu yang kami tempuh untuk sampai. Alhamdulillah, akhirnya setelah perjalanan panjang duduk di dalam bus, kemudian berjalan-jalan di sekitar Candi Borobudur, lelah kami pun terobati. Teman sekamar saya adalah Ayu dan Gina, meski lelah namun kami bertiga tetap tak melewatkan waktu untuk sekadar bercerita tentang hal ini dan itu.
Hari kedua tiba, Minggu, 13 Oktober 2019, setelah sarapan, kami akan berkunjung ke tiga destinasi hari ini di antaranya Museum Vredeberg, Istana Mangkunegaraan, dan Museum Pabrik Gula De Tjolomadoe. Sebelumnya saya sudah berkali-kali berkunjung ke Vredeberg, yang terakhir pada bulan Februari 2019, dan saat ini ada beberapa hal yang menarik di Vredeberg ini yakni terdapat kreasi-kreasi seni yang dipajang di pelataran museum sehingga membuat Vredeberg ini semakin terasa nilai-nilai budaya dan kesejarahannya. Meski menikmati selama berada di museum ini, namun saya pribadi cukup kecewa, karena tidak sempat semua informasi yang ada di tiap diorama dapat saya baca secara keseluruhan karena dikejar waktu yang terbatas. Semoga lain waktu bisa berkunjung kembali ke sini. Secara garis besar di tiap diorama banyak sekali miniature-miniatur yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia pada masa perjuangan dan revolusi kemerdekaan Indonesia.

Setelah selesai berkeliling dan mengunjungi Museum Vredeberg, kami segera bergegas menuju Istana Mangkunegaraan dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setiap kelompok didampingi satu orang guide yang menceritakan segala hal yang terdapat di istana tersebut. Kami melihat banyak benda-benda peninggalan yang masih terjaga sampai sekarang. Guide yang menemani kami sangat informatif namun tetap menyenangkan karena penyampaiannya yang menarik dan jelas.
Destinasi berikutnya adalah De Tjolomadoe di Solo, namun sebelum itu kami melakukan istirahat, sholat, dan makan (ishoma) di rest area yang bernama Rumah Makan Tamansari. Cuaca saat itu begitu panas, ditambah dengan banyaknya pengunjung, dan keramaian di sana sini. Cukup melelahkan.

Selesai ishoma, perjalanan kami dilanjutkan menuju Museum Pabrik Gula De Tjolomadoe di Solo. Kami tiba sekitar pukul empat sore. Kebetulan kelompok saya mendapat bagian untuk mengobservasi museum ini, namun sayangnya di sana tidak disediakan tourguide sehingga kami harus puas hanya dengan membaca dan menjelajahi secara mandiri informasi yang ada di sana. Museum yang diresmikan pada akhir 2018 ini masih terbilang baru, namun antusiasme masyarakat sudah cukup tinggi untuk berkunjung ke museum ini. Museum ini sangat tertata rapi, desain bangunannya pun unik, ditambah dengan suasananya yang sangat instagramable membuat siapapun akan betah dan senang berfoto di sini.

Hari sudah mulai gelap, sudah saatnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat karena masih ada satu hari berikutnya agenda KKL II ini. Namun sebelum menuju hotel, kami melakukan ishoma terlebih dahulu di Rumah Makan Bu Mayar. Selesai mengisi perut dan istirahat sejenak, perjalanan menuju ke hotel pun dilanjutkan, cukup lama, hampir dua jam, namun di dalam bus teman-teman semuanya masih tetap bersemangat untuk sekadar bernyanyi dan bercanda riang bersama.

Setibanya di hotel, sekitar pukul setengah sembilan malam, panitia telah mempersiapkan acara makrab atau malam keakraban untuk mempererat tali persaudaran kami sesama warga sejarah Historia 17. Acaranya cukup meriah, ada stand up comedy dari Iman dan Asep, kemudian ada penampilan dari setiap perwakilan kelompok, ketua pelaksana KKL II pun yaitu Pipin ikut menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur kami semua, dan acara puncaknya adalah pembacaan puisi tentang orangtua yang semakin membuat rindu kami pada mereka semakin besar yang dibacakan oleh Fitri, serta acara terakhir adalah pesan-pesan dari ketua angkatan Historia 17, Agung, sekaligus menutup acara ini dengan musafahah.

Tidak terasa jam di tangan saya menunjukkan angka 12, artinya ini sudah tengah malam. Ketika sampai di kamar, kami bertiga malah belum bisa tidur karena bercerita tentang banyak hal. Akhirnya kami pun hampir saja bangun kesiangan, padahal agenda hari Senin dimulai dari pukul 6.30 pagi. Alhamdulillah packing sudah dilakukan sejak malam jadi pagi harinya kami tidak kewalahan untuk bersiap-siap. Sarapan. Checkout. Berangkat menuju Universitas Negeri Yogyakarta untuk melakukan studi banding dan safari kampus UNY. Dari UNY kami menuju Rumah Makan Goeboeg Resto untuk makan siang. Hari Senin, 14 Oktober 2019 ini setelah berkunjung ke UNY masih ada dua destinasi lagi yang akan kami kunjungi, pertama Museum Dirgantara, dan kedua adalah Malioboro. Untuk Museum Dirgantara ini saya pribadi pernah ke sini sekitar empat tahun yang lalu bersama teman-teman SMA. Tidak banyak yang berubah, namun memang tidak sama. Suasananya berbeda karena kali ini bersama dengan teman-teman Historia 17.

Meski kaki sudah lelah, namun jiwa jalan-jalan kami masih kuat, destinasi terakhir adalah Malioboro. Di sini, kami berbelanja, berfoto, dan menceritakan banyak hal. Menyenangkan dan berkesan. Bahkan terdapat satu kejadian yang lucu bagi saya pribadi. Saat itu, karena kami semua dibebaskan untuk berkeliling Malioboro sampai batas waktu yang ditentukan. Pergilah saya bersama empat orang teman lainnya. Kami asyik menikmati suasana malam di Malioboro, yang ramai dengan pedagang dan pengunjung. Pada salah satu spot saya bersama salah satu teman saya asyik memilih dan memilah baju untuk dibeli, saking lamanya (maklum perempuan), salah satu teman saya bernama Agung berniat untuk duduk terlebih dahulu sambil menunggu kami memilih, mungkin saking lamanya setelah selesai bertransaksi, saya bersama dua orang teman lainnya dengan santainya pergi meninggalkan stan pedagang tersebut tanpa ingat bahwa ada satu teman kami yang tertinggal. Barulah jarak beberapa meter salah satu teman saya berkata dan menanyakan keberadaan Agung. Kami pun sepakat untuk meneleponnya, namun tak ada jawaban. Akhirnya kami berpikir bahwa Agung mungkin ikut ke rombongan yang lain. Ya sudah, kami pun melanjutkan acara jalan-jalan kami hingga waktu menunjukkan pukul setengah sembilan. Setibanya di parkiran, kami tetap belum bertemu dengan Agung.

Pukul sembilan empat bus kami bersiap untuk meninggalkan Yogyakarta. Selang satu jam berikutnya bus kami berhenti di Rumah Makan Ambarketawang untuk makan malam bersama. Saat saya sedang duduk sambil bercengkrama bersama teman-teman yang lainnya, datanglah  Agung dan mengintrogasi saya dengan pertanyaan mengapa meninggalkannya pada saat di Malioboro tadi. Di meja itu kami semua tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita Agung yang sebenarnya tidak sadar kami tinggalkan, lagipula saya pun tetap meminta maaf padanya bahwa itu adalah ketidaksengajaan. Sungguh lucu, mungkin hikmahnya ketika sedang bersama-sama apalagi di tempat yang bukan biasa bagi kita, kita semua harus saling perhatian dan saling menjaga satu sama lain, agar kisah Agung tidak terulang kembali.

Setelah penghakiman tentang kejadian di Malioboro itu, kami pun diimbau untuk segera masuk bus karena perjalanan pulang akan dilanjutkan. Malam itu, semuanya terlihat lelah dan hanya satu aktivitas kami yaitu tidur. Berdoa semoga sampai di Tasik dalam keadaan sehat dan selamat. Dan setelah perjalanan panjang kami pun tiba di kampus tercinta Universitas Siliwangi sekitar pukul enam pagi. 






Sebenarnya masih banyak foto-foto lainnya, tapi cukup itu saja yang saya tampilkan di sini.
Itulah sedikit cerita yang penuh makna ketika melakukan safar dan rihlah ke Yogyakarta dan Solo, semoga Allah memberikan kesempatan pada kita untuk melakukan rihlah-rihlah yang lainnya. Aamiin...
Sekian dulu untuk kali ini, see you later. Selalu semangat menjalani hari-hari yang in syaa Allah berkah ini.
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Main Quora: Seru!

Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

PAD MAN: Suami yang Lebih Dari Sekadar Mencintai