Pengalaman KKL Historia'17 di Sukabumi dan Cianjur

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Hallo, sahabat semuanya, apa kabar hari ini? Bagaimana dengan lahiriahnya? Bathiniyahnya? Yaa semoga selalu berada dalam lindungan Allah swt. dan diberi ketenangan hati dan pikiran serta sehat jiwa raga. Aamiin…
Jadi sudah lama saya tidak posting di blog ini, soalnya ya begitulah sulit menyesuaikan waktu dengan berbagai kesibukan kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadiku yang lainnya. Tapi, kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang sangat berharga, selama empat hari yang lalu, tepatnya dari tanggal 1 sampai 4 Oktober 2018, angkatanku, Historia ’17, melaksanakan salah satu tugas mata kuliah yaitu KKL (Kuliah Kerja Lapangan) I. Nah, KKL I ini kami semua mengunjungi tiga situs bersejarah di daerah Sukabumi dan Cianjur, di antaranya Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Istana Kepresidenan Cipanas, dan Gunung Padang Cianjur.
Ok, langsung saja berikut akan saya jelaskan salah satu pengalaman berharg saya selama KKL I ini bersama teman-teman Historia ’17 dan tentu saja didampingi dosen-dosen kami yang tercinta. ;)

Kita berangkat hari Senin malam, sekitar jam 19.20, dari UNSIL sebanyak 90 orang termasuk dosen, mahasiswa, dan perwakilan dari fsayaltas. Perjalanan menuju Sukabumi cukup memakan banyak waktu, jam 4.00 shubuh kita sampai di Pelabuhan Ratu, untuk beristirahat dan transit untuk melanjutkan perjalanan menuju Ciptagelar menggunakan mobil bak, yap, kalau orang Sunda menyebutnya kolbak, pokoknya amazing. Track yang kita lalui pun bukan jalanan beraspal, melainkan jalan penuh bebatuan, ya begitulah, fotonya? I’ll show u.
Hari Senin siang, seperti kebanyakan orang lakukan yaitu prepare, mempersiapkan berbagai macam perlengkapan dan barang yang dibutuhkan selama KKL, di antaranya pakaian, alat mandi, alat shalat, camilan, freshcare sebagai aromateraphy ‘mencegah pusing’, notebook, dan tentu saja beberapa hal penting seperti uang, handphone, dan power bank. Semuanya di-packing serapih mungkin dan se-minimal mungkin sesuai kebutuhan.

Momen saat panitia selesai rapat kerja terakhir (sebelum pemberangkatan)

Setelah shalat Maghrib, seluruh mahasiswa diimbau untuk berkumpul di sekitar lapangan utama UNSIL yang akan diberikan pengarahan sekaligus mengisi presensi. Sekitar beberapa menit kemudian barulah dua bus UNSIL (satu bus besar dan satu bus kecil) terparkir rapih di samping lapangan, satu per satu dari mahasiswa Historia ’17 memasuki bus dan menempati jok sesuai tempat duduk yang telah ditentukan, saat itu saya bersama Gina Febriatin dan Resti Nawi. Ok, jam 19.22, Bismillah… kami semua berangkat menuju Sukabumi yang berjarak tidak kurang dari 387,5 km dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Sepanjang perjalanan pemberangkatan seperti biasa hanya mendengarkan lagu, becanda ria dengan teman-teman yang lainnya dan pulas tertidur meski pun bukan tidur yang ‘produktif’.


Salah satu foto sebelum pemberangkatan
Sekitar jam sebelas malam, kedua bus kami beristirahat sejenak mempersilakan kami untuk sekadar meregangkan badan dan membeli makanan. Kami melanjutkan kembali perjalanan.

Atas Lindungan Allah swt. akhirnya setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, sekitar jam empat pagi, kami semua tiba di Pantai Pelabuhan Ratu Cisolok. Istirahat, shalat Shubuh, sarapan kami lakukan di sana, sambil menunggu persiapan berangkat menuju Kasepuhan Ciptagelar. Telah diparkirkan dengan cantik, enam buah mobil pick up yang akan ‘membawa’ kami menuju destinasi pertama kami, yaitu Kampung Adat Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Satu mobil pick up memuat sekitar 13-14 orang. Waktu tempuh sekitar dua jam. Jauh sebelum berangkat, saya memang sudah melihat di youtube bagaimana kebudayaan yang ada di Kasepuhan Ciptagelar, beserta dengan track menuju ke sana, dan ya setelah waktunya tiba kami berangkat ke sana, track yang dilalui sungguh tak dapat saya deskripsikan, I mean, jalan bebatuan dengan dikelilingi bukit-bukit penuh pepohonan menjadi daya tarik tersendiri sebagai ucapan selamat datang bagi kami.Speechless. Pokoknya perjalanan menuju Ciptagelar sangat sangat unexpectable, badan kami ‘bergoyang’ mengikuti gerakan mobil pick up ‘berjuang’ melewati jalanan yang terjal.




Foto perjalanan terjal menuju Ciptagelar yang telah kami lalui
Nah itu beberapa penampakan bagaimana perjalanan yang dilalui selama menuju Ciptagelar, meski menembus track yang membutuhkan konsentrasi ekstra, namun selama perjalanan kita semua disuguhkan dengan pemandangan sekitar yang masih asri dan menenangkan.
Setelah melewati perjalanan yang berliku namun indah, akhirnya kami semua sampai di Kasepuhan Ciptagelar.


Foto saat tiba di Ciptagelar
Kami semua beristirahat sejenak sampai kemudian diarahkan untuk menempati rumah-rumah warga yang sudah dipersiapkan. Saya bersama tujuh teman perempuan lainnya, yaitu Fitri, Gina Febriatin, Gina Sovia, Lista, Nurfitria, Yuni, dan Tyas menempati rumah yang ke-4. Kami disambut dengan ramah oleh pemilik rumah, memberikan jamuan makanan, tempat tidur, dan fasilitas lainnya. Awal mula saya pikirkan adalah bahwa Kampung Ciptagelar ini masih sangat berpikir konservatif, menutup diri pada perkembangan teknologi, tidak ada listrik, dan berbagai pemikiran lainnya seperti yang biasanya diterapkan oleh berbagai kampung adat, namun pada kenyataan masyarakat Ciptagelar tidaklah kuno seperti yang sudah saya dan mungkin yang lain bayangkan. Di sana, masyarakat sudah menggunakan handphone, televisi, radio, dan tentu saja listrik. Bahkan mereka memiliki channel TV sendiri yang bernama CigaTV.

Kami ber-delapan ngaso sambil ngobrol ngaler-ngidul sekaligus bergantian untuk membersihkan badan, sampai ada informasi dari Koordinator Lapangan (Adam) untuk segera merapat ke “Imah Gede” untuk makan pagi (padahal waktu itu sudah memasuki jam sepuluh, tapi tidak apa-apa). Saat kegiatan makan pagi itu, makanan yang disajikan memang sangat menggoda selera, ada nasi merah (kesukaan saya), tumis, gorengan, ayam kecap, dan masih banyak lagi. Satu hal yang mengesankan selama makan di Ciptagelar adalah bahwa ketika kita makan nasinya, meskipun sedikit tapi mengenyangkan, konon karena cara penanaman sampai panennya dilakukan menggunakan cara-cara tradisional maka padi yang dihasilkan pun adalah yang berkualitas baik.

Setelah selesai makan pagi, kami segera kembali ke ‘rumah masing-masing’ untuk melanjutkan istirahat.

Waktu telah menunjukkan jam 12.10 kami ber-delapan bertanya-tanya mengapa tidak terdengar suara adzan, dan ternyata memang tidak ada adzan karena (menurut salah satu guide mengungkapkan) masyarakat di sana tidak melaksanakan shalat. Namun kami tetap melaksanakan shalat sesuai waktu biasanya. Jam 13.00 kami semua makan bersama lagi atau makan siang, dengan menu yang sedikit berbeda dari makan pagi, kemudian dilanjutkan dengan observasi. Pada saat observasi, saya (kelompok 5) bergabung dengan kelompok 1 untuk mengikuti dan menyimak Guide Lokal menjelaskan sejarah berdirinya Ciptagelar, tradisi yang terdapat di Ciptagelar, sampai hal-hal lainnya yang ada di Ciptagelar.



Foto saat Guide Lokal menjelaskan sejarah Ciptagelar
Guide Lokal menjelaskan bahwa Ciptagelar sudah ada sejak abad 13, dahulunya tidak bertempat di sana, namun dengan adanya wangsit (perintah leluhur) kepada Abah, akhirnya mereka berpindah tempat dari Ciptarasa ke daerah yang sekarang bernama Ciptagelar pada sekitar bulan Juli 2001. Arti dari nama Kasepuhan Ciptagelar sendiri adalah Kasepuhan dari Ka- dan –an sebagai imbuhan, dan sepuh dalam bahasa Sunda artinya kolot atau tua. Sedangkan kata Ciptagelar berarti pasrah atau terbuka.  Dalam perjalanan sejarahnya, warga kasepuhan telah berpindah beberapa kali tetapi tetap berada di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Awal perpindahan dimulai dari leluhur mereka yaitu Nini Tundarasa yang pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog; satu di antara keturunan Nini Tundarasa bernama Ki Buyut Mar pindah ke Kampung Lebak Binong (Banten); keturunan selanjutnya Aki Buyut Mas pindah ke Kampung Cipatat (Bogor) yang kini dikenal dengan nama Kasepuhan Urug; selanjutnya Aki Wami alias Buyut Gondok memindahkan Kampung Gede ke Kampung Lebak Larang (Banten); keturunan selanjutnya Aki Buyut Kayon memindahkan lagi ke Kampung Tegallumbu (Banten); Aki Buyut Jasiun atau Ki Ciung anak dari Aki Buyut Arikin memindahkan dari Tegallumbu ke Bojong Cisono (Sukabumi) yang kemudian kepemimpinannya diganti oleh Aki Buyut Rusdi yang selanjutnya memindahkan kasepuhan ke Cicemet (Sukabumi); Ki Ardjo melakukan banyak perpindahan, yang terakhir adalah ke Kampung Ciptarasa, dan terkakhir dilakukan pemindahan oleh Abah Anom ke Ciptagelar di Sirnaresmi, sampai sekarang pada kepemimpinan anaknya, Abah Ugi.

Selain sejarah berdirinya, Guide Lokal menjelaskan tradisi apa saja yang terdapat di Ciptagelar, seperti bentuk rumah yang selalu berbentuk panggung atau lantainya terbuat dari papan, penempatan kamar kepala keluarga harus terkena cahaya matahari pagi secara langsung artinya jangan ada kamar lain yang membayanginya, tradisi selanjutnya dan yang paling interested adalah tradisi pakayaan atau tradisi dari mulai menyiapkan benih padi, penanaman, perawatan, sampai panen padinya. Menurut penuturan Abah sendiri (kami melakukan diskusi dengan Abah Ugi pada sekitar jam sepuluh malam sekitar dua jam setelah makan malam) bahwa di Ciptagelar yang menjadi ikon utamanya adalah padi, mereka menanam padi hanya satu kali setahun dengan rentang waktu 6-7 bulan lamanya, dan memiliki lebih dari 130 varietas padi. Dalam penanaman dan perawatannya pun dilakukan dengan tradisional dengan memerhatikan kondisi alam dan posisi bintang. Dalam satu tahun ini terdapat berbagai upacara adat dalam memeriahkan pakayaan, yang puncaknya adalah upacara adat Serentaun. Bangunan-bangunan kecil yang ada di sekitar pemukiman warga adalah tempat menyimpan padi atau disebut sebagai leuit. Masyarakat Ciptagelar bahkan mengklaim bahwa persediaan padi mereka bisa bertahan bertahun-tahun dan dapat dijadikan sebagai cadangan makanan sampai tiga tahun ke depan meskipun tanpa panen. Namun, kewajiban panen padi setahun sekali itu sudah tidak dapat diganggu gugat, ketika tidak menjalankan tradisi tersebut makan otomatis dia bukan bagian dari masyarakat Ciptagelar.
Makan bersama



Foto bersama Kelompok V

Kami semua puas berkeliling sampai sore menjelas kami pulang ke ‘rumah masing-masing’, beristirahat, ngobrol, dan sebagainya. Ketika menjelang maghrib, tiba-tiba saja listrik di sana padam, padam total, apalagi rumah yang saya tempati berada di ujung dekat bukit. Saat kami selesai makan malam pun suasana di sana amat mencekam dan creepy sekali, pencahayaan yang hanya bersumber dari senter handphone, kemudian suara lolongan anjing, ditambah dengan udara dingin yang menusuk, dan didukung oleh cuaca yang saat itu sedikit gerimis. Lengkap sudah. Malam itu kami dapat tertidur pulas karena memang badan kami meminta haknya, namun ketika tengah malam, salah satu teman kami, Tyas, terkena hipotermia yang mengharuskan kami semua waspada membantunya sampai kembali seperti semula.

Pagi menyapa kami terasa lebih cepat, bersiap diri, kemudian sarapan, berpamitan, dan kembali melakukan perjalanan pulang, meski ada beberapa kendala seperti mobil pick up yang tersedia hanya sebanyak lima, sedangkan kami tidak bisa jika harus berdesakan dalam waktu yang cukup lama dan dalam kondisi jalan yang cukup membahayakan. Jalan yang kami lalui kali ini bukan jalan yang kemarin, katanya jalan ini lebih dekat tetapi kondisi jalan begitu ‘menyeramkan’, maksud saya kondisi jalan yang terjal, sepanjang mata memandang adalah perbukitan, samping kanan adalah jurang dan samping kiri adalah tebing, ditambah muatan dalam satu mobilnya berisi lebih dari yang seharusnya. Semakin ‘menyiksa’. Tetapi, keseruan kami menikmati perjalanan menjadikan pengalaman ini lebih berharga dan justru menjadi tantangan tersendiri. Ciptagelar keren dengan segala tradisinya, namun ada satu hal yang disayangkan yaitu berserakannya sampah khusunya sampah plastik, sehingga menjadi nilai minus terhadap keindahan Ciptagelar yang alami, semoga baik para pengunjung dan masyarakat Ciptagelar mendapatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan demi kenyamanan bersama.


Pemandangan yang indah selama perjalanan pulang dari Ciptagelar

Kami sampai di tempat awal kami transit dari bus ke mobil pick up saat itu hampir mendekati waktu dzuhur, jadi kami semua beristirahat sambil menikmati ketenangan Pantai Pelabuhan Ratu di daerah Cisolok. Berikut momen-momen indahnya.

Momen saat di Pantai Pelabuhan Ratu Cisolok

Selesai melaksanakan shalat dzuhur dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Cianjur untuk check in hotel, sungguh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan setelah mengalami perjalanan yang amazing juga dari Ciptagelar. Jadi sepanjang perjalanan hanya ngemil dan tidur.
Akhirnya kami semua tiba di salah satu hotel di Cipanas yaitu Ayola Hoci Cipanas. Seperti biasa kami check in, saat itu saya sekamar dengan Ayu Puji dan Silvi, di nomor 002. Malam itu saya ‘istirahat total’.
Paginya, hari Kamis, kami bersiap-siap untuk sarapan dan akan berkunjung ke Istana Kepresidenan Cipanas yang jaraknya hanya kurang lebih 500 meter dari hotel tempat kami menginap. Selesai sarapan, kita semua langsung otw ke Istana, kami dibagi menjadi dua kelompok, Guide di sana menjelaskan sejarah Istana Kepresidenan Cipanas secara rinci sambil mengajak kami semua berkeliling dan melihat berbagai bangunan yang ada di sana.

Seperti yang Guide paparkan bahwa Istana Kepresidenan Cipanas ini dibangun pada saat pendudukan Belanda di Indonesia. Luas Istana Cipanas ini yaitu 26 hektare, yang mulai dibangun pada tahun 1740. Terdapat beberapa bangunan terpisah yang memiliki nama, seperti Gedung Utama tempat pertemuan para mentri, presiden, dan sebagainya; paviliun-paviliun yang dinamai sesuai nama Pandawa Lima, seperti Yudistira, Bima, dan Arjuna; tempat pemandian air panas; dan sebuah paviliun kecil tempat favorit Soekarno menulis, khusunya menulis naskah pidato. Pemandangan langsung menghadap ke Gunung Gede dan adanya air panas alami yang mengandung belerang, zat garam, dan zat besi, dengan suhu sekitar 43 derajat celcius. Penamaan dari Cipanas pun diambil dari adanya sumber mata air panas di daerah yang sekarang bernama Cipanas. Dahulu Istana Cipanas ini dijadikan tempat transit para petinggi Belanda yang melakukan perjalanan dari Batavia menuju Bandung. Dan selanjutnya dijadikan Istana Kepresidenan sejak kemerdekaan Indonesia. Kemudian kami diajak memasuki Gedung Utama yang di dalamnya terdapat beberapa ruangan khusus, seperti kamar presiden, kamar wakil presiden, ruangan kantornya, ruangan pertemuan, dihiasi berbagai lukisan indah yang terasa nilai magisnya, dan beberapa furniture yang sudah sejak ratusan tahun yang lalu masih terjaga sampai sekarang. Istana Kepresidenan Cipanas menyimpan sejarah yang panjang dan mengesankan.

   












    
Foto-foto selama di Istana Kepresidenan Cipanas

Sekitar jam sebelas siang, kami kembali ke hotel untuk check out dan melanjutkan perjalanan ke objek selanjutnya yaitu Gunung Padang. Jarak yang ditempuh cukup jauh sehingga memakan waktu yang cukup lama, ditambah dengan adanya beberapa permasalahan yang syukurlah dapat diselesaikan. Setelah lama perjalanan, berikutnya kami menaiki angkutan umum yang sudah di-booking (lagi-lagi kami transit dan menempuh perjalanan yang jauh lagi, namun kali ini track yang dilalui tida ‘se-seram’ saat ke Ciptagelar. Baiklah, kami naik angkot, dan melihat pemandangan sekeliling yang tak kalah indah, luasnya bukit dan area kebun teh menambah kesejukan mata memandang, kalau dalam bahasa Sunda ada istilahnya yaitu herang panon tiis ceuli.






Foto di Gunung Padang
Alhamdulillah tiba di Gunung Padang, dan setelah bertemu dengan Guide ternyata untuk dapat melihat secara langsung peninggalan Megalitikum Gunung Padang, kami harus menaiki tangga sebanyak lebih dari 300 buah anak tangga. Guide Lokal bernama Pak Nanang dan Pak Asep memberikan penjelasan mengenai sejarah peninggalan Megalitikum situs Gunung Padang ini. Beliau menjelaskan secara rinci, terdapat apa saja di Gunung Padang ini, waktu terbentuknya, jenis bebatuan yang ada, luas kompleks utama Gunung Padang kurang lebih 900 m2, terdapat lima teras yang setiap teras memiliki fungsi dan hal uniknya masing-masing. Guide menjelaskan bahwa peninggalan ini merupakan hasil kebudayaan yang maju pada zamannya sehingga meninggalkan hasil kebudayaan yang masih menjadi misteri dan banyak pendapat di antara para arkeolog. Banyak yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi dahulunya menjadikan tempat ini sebagai tempat yang sacral baginya. Ada pula yang menyebutkan bahwa kebudayaan manusia di Gunung Padang ini tidak terlepas dari nilai-nilai mistis yang kuat. Bahkan Guide meyakini bahwa peninggalan Gunung Padang ini sangat banyak kaitannya dengan pesan-pesan Tuhan bagi kehidupan manusia. Hari semakin senja, kami semua turun melalui tangga yang berbeda yang lebih banyak namun safety. Sampai di bawah, kami makan bersama dan melanjutkan perjalanan pulang.

Alhamdulillah sampai di bus, kami lanjutkan untuk menemukan tempat beristirahat yang nyaman sekaligus membeli buah tangan khas Cianjur. Selanjutnya kami menikmati perjalanan pulang menuju Tasikmalaya dengan membawa kenangan serunya KKL I selama empat hari di Sukabumi dan Cianjur. Tiba di Tasikmalaya sekitar jam dua pagi, saya langsung pulang ke kost-an dan sudah ada Ibu saya di sana, kemudian saya bercerita sedikit dan melanjutkan tidur untuk mengganti hak badan saya untuk istirahat dan tidur yang baik. Alhamdulillah, Allah swt. selalu memberi banyak kenikmatan yang tak terhingga.

Overall, sejarah dari ketiga objek yang kami semua kunjungi semuanya keren, memiliki ciri khas masing-masing yang kesejarahannya patut untuk dijadikan bahan kajian dan sebagai penambah wawasan serta yang paling penting mengambil setiap hikmah pembelajaran dari setiap tadabbur objek sejarah. Historia Jaya.
Sekian cerita perjalanan saya mengikuti KKL I ini, semoga dengan tulisan ini dapat menebarkan ilmu dan hikmah. Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita semua untuk melaksanakan KKL selanjutnya, tadabbur di Bumi Allah… Aamiin…
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Sebagai penutup, inilah beberapa foto pilihan:












So, seperti biasa, Alhamdulillah, Sahabat, terima kasih telah berkunjung, silakan tinggalkan jejak dan share pengalaman kalian travelling atau sejenisnya di kolom komentar. 
Mohon maaf bila ada kesalahan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Have Courage and Be Kind! Keep Hamasah! Smile, Accept it, and Keep Going!
Salam Literasi!
#BeAWisePeople #BeAWiseMuslim #Books #Collect #SalamLiterasi #LiterasiProgresif #KLiP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan Main Quora: Seru!

Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

PAD MAN: Suami yang Lebih Dari Sekadar Mencintai